
UPdates—Tiga tahun perang genosida Israel di Gaza telah menimbulkan dampak yang sangat menghancurkan bagi jurnalis Palestina.
You may also like :
Intelijen Bilang Hamas Akan Menyerang, Israel Siagakan Militer Jelang Peringatan 7 Oktober
Sebanyak 263 pekerja media tewas dan ratusan lainnya terluka, ditahan, atau mengungsi, menurut otoritas Palestina dan organisasi jurnalisme.
You might be interested :
Pemimpin Hamas di Gaza, Ali al-Amoudi Lolos dari Upaya Pembunuhan Israel
Para jurnalis kehilangan rumah, tempat kerja, dan anggota keluarga, serta banyak yang harus berpindah-pindah antara lokasi pengeboman, kamp pengungsian, dan rumah sakit demi terus meliput berita.
Mereka tetap menjadi sumber utama peliputan langsung di lapangan karena Israel terus melarang jurnalis asing memasuki wilayah tersebut.
Ismail al-Thawabta, direktur Kantor Media Pemerintah Gaza, mengatakan kepada Anadolu bahwa Israel telah menewaskan 263 jurnalis dan pekerja media selama perang berlangsung.
Ia menyebutkan bahwa 50 jurnalis telah ditahan di penjara Israel, dengan 23 orang di antaranya masih berada dalam tahanan.
"Tiga jurnalis masih dinyatakan hilang: Nidal Suheil al-Wahidi, Haitham Jamal Abdul Wahid, dan Ahmad Issam al-Agha," katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Rabu, 8 Oktober 2026.
Menurutnya, serangan Israel telah merusak atau menghancurkan 16 kantor televisi satelit, 11 lembaga penyiaran radio, 12 kantor surat kabar dan majalah, 23 organisasi media digital, 27 percetakan, serta lima organisasi serikat pekerja dan hak asasi yang bergerak di bidang media.
Al-Thawabta memperkirakan kerugian di sektor media mencapai sekitar $1 miliar, mencakup bangunan, peralatan, kendaraan siaran, dan perangkat teknis.
Pada 7 September, Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) menyatakan bahwa jumlah kematian jurnalis di Gaza merupakan yang tertinggi dalam sejarah jurnalisme modern, seraya mencatat bahwa mereka terus meninjau dan memperbarui daftar tersebut seiring munculnya informasi baru.
Lebih dari seperlima jurnalis tewas
Sindikat Jurnalis Palestina menyatakan dalam pernyataan sebelumnya bahwa 27 jurnalis perempuan termasuk di antara mereka yang tewas, sementara hampir 500 jurnalis lainnya terluka.
Sindikat tersebut memperkirakan terdapat sekitar 1.200 jurnalis di Gaza, yang berarti lebih dari seperlimanya telah tewas selama genosida berlangsung.
Disebutkan pula bahwa antara 60% hingga 75% jurnalis yang selamat telah kehilangan rumah atau terpaksa mengungsi, dengan perkiraan jumlah mereka yang terdampak berkisar antara 700 hingga 900 orang.
Menurut sindikat tersebut, lebih dari 80% kantor dan institusi media telah hancur total atau sebagian.
Kehancuran ini memaksa para jurnalis untuk meliput berita dari tenda, lokasi pengungsian, dan area di sekitar rumah sakit di tengah keterbatasan listrik, akses internet, peralatan pelindung, serta kamera.
Serangan mematikan pada tahun 2023
Pemantauan Anadolu mencatat serangkaian peristiwa tewasnya jurnalis saat mereka sedang bertugas atau berada di lokasi peliputan dan pengungsian.
Bilal Jadallah, direktur jenderal Press House-Palestine—sebuah organisasi nirlaba yang mendukung pengembangan media independen Palestina—tewas pada November 2023 ketika serangan Israel menghantam kendaraannya di Kota Gaza.
Jadallah juga berperan dalam mendirikan kantor berita Sawa serta berupaya melatih para jurnalis dan menyediakan peralatan keselamatan bagi mereka.
Pada awal Desember, juru kamera lepas Anadolu, Montaser al-Sawwaf, tewas bersama saudaranya, Marwan, akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza.
Montaser, yang telah bekerja dengan Anadolu sejak 2014, sebelumnya selamat dari serangan terhadap rumah keluarganya dua minggu sebelumnya yang menewaskan orang tua serta beberapa saudaranya.
Meskipun mengalami cedera pada mata dan hidungnya, ia tetap melanjutkan tugas peliputan.
Lahir pada tahun 1990, ia telah berkeluarga dengan dua anak dan pernah menempuh studi jurnalistik serta media di Universitas Al-Aqsa.
Saudaranya bekerja di bidang produksi dokumenter.
Juru kamera Al Jazeera, Samer Abu Daqqa, meninggal dunia setelah serangan pesawat nirawak (drone) pada 15 Desember 2023 di sekolah Farhana di Khan Younis, Gaza, karena tim penyelamat terhalang untuk menjangkaunya selama lebih dari lima jam.
Meskipun keluarganya tinggal di Belgia, Abu Daqqa memilih untuk tetap berada di Gaza demi melanjutkan kiprah jurnalistiknya.
Korban jiwa terus bertambah pada tahun 2024
Wartawan Hamza al-Dahdouh dan Mustafa Thuraya tewas pada Januari 2024 ketika serangan Israel menghantam kendaraan mereka di sebelah barat Khan Younis.
Hamza, putra kepala biro Al Jazeera di Gaza, Wael al-Dahdouh, sebelumnya telah kehilangan ibu dan saudara-saudaranya akibat serangan Israel yang menghantam rumah tempat keluarga mereka berlindung di kamp pengungsi Nuseirat pada Oktober 2023.
Fotojurnalis Hassan Hamad, yang bekerja untuk beberapa media, tewas dalam serangan Israel di Gaza utara pada Oktober 2024.
Jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit Kamal Adwan, tempat saudaranya mengenali identitasnya melalui rambut dan rompi pers yang dikenakannya.
Wartawan tewas di tenda dan rumah sakit pada tahun 2025
Wartawan lepas Anadolu, Saed Abu Nabhan, tewas ditembak penembak jitu (sniper) Israel pada 10 Januari 2025 saat menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah.
Pada bulan Juni tahun itu, serangan Israel menewaskan koresponden Palestine Today, Suleiman Hajjaj, juru kamera saluran tersebut Ismail Badah, dan editor Shams News, Samir al-Rifai.
Jurnalis Youssef al-Nakhala dari Al-Watania Media Agency meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan Israel pada 31 Mei.
Pada 10 Agustus, serangan udara Israel yang menghantam sebuah tenda di dekat Rumah Sakit Al-Shifa di bagian barat Kota Gaza menewaskan enam jurnalis, termasuk koresponden Al Jazeera, Anas al-Sharif dan Mohammed Qreiqeh.
Al-Sharif dikenal luas karena liputannya mengenai pengeboman, kelaparan, dan pengungsian di Gaza utara, wilayah yang menghadapi serangan udara dan darat intensif dari Israel pada awal perang.
Qreiqeh bekerja untuk media lokal sebelum bergabung dengan Al Jazeera. Ibunya tewas dalam serangan militer Israel terhadap Rumah Sakit Al-Shifa pada Maret 2024.
Pada 25 Agustus, serangan Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menewaskan lima jurnalis saat mereka sedang bertugas: Mariam Abu Daqqa, Hossam al-Masri, Mohammed Salama, Moaz Abu Taha, dan Ahmad Abu Aziz.
Kematian setelah gencatan senjata
Data dari Kantor Media Pemerintah menunjukkan bahwa jumlah kematian di kalangan jurnalis Palestina meningkat dari 254 menjadi 263 orang setelah gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025.
Pada 12 Oktober, kantor tersebut mencatat kasus pertama kematian jurnalis selama masa gencatan senjata: Saleh al-Jaafarawi, yang dilaporkan ditembak oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Israel saat sedang meliput di kawasan Sabra, bagian selatan Kota Gaza.
Jurnalis yang tewas akibat tindakan militer Israel pada tahun 2026 antara lain koresponden Al Jazeera, Mohammed Wishah, pada bulan April, serta saudaranya, Ahmad—seorang juru kamera untuk saluran tersebut—pada 20 Juni.
Nama-nama lain yang turut menjadi korban meliputi Amal al-Shamali, Anas Ghoneim, Abdul Raouf Shaat, dan Mohammed Qishta.
Jurnalisme tanpa dinding
Di luar jatuhnya korban jiwa, genosida ini telah mengubah wajah jurnalisme di Gaza secara mendasar.
Akibat hancurnya rumah, kantor, dan peralatan, banyak wartawan dan fotografer bekerja dari tenda pengungsian maupun halaman rumah sakit, sembari berpindah tempat bersama keluarga mereka dan membawa peralatan apa pun yang berhasil diselamatkan.
Persatuan Jurnalis Palestina menyebut situasi ini sebagai "jurnalisme tanpa dinding," yang mencerminkan hilangnya rumah dan kantor ratusan jurnalis saat mereka terus meliput berita dari lokasi pengungsian.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang di Gaza. Sekitar 90% infrastruktur wilayah tersebut telah hancur.
Meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025 antara Israel dan kelompok Palestina Hamas, serangan Israel sejak saat itu telah menewaskan 1.454 warga Palestina dan melukai 5.090 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.