
UPdates—Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanipulasi keterangannya mengenai peringatan yang ia terima sebelum serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023.
You may also like :
5 Pemimpin Oposisi Israel Bersatu Lengserkan Netanyahu dalam Pemilu Bulan Depan
Menurut sebuah investigasi yang diterbitkan pada hari Rabu oleh surat kabar Israel, ia menghilangkan informasi penting dan mengubah konteks diskusi keamanan.
You might be interested :
3 Tahun Perang, 263 Jurnalis Gaza Tewas dan 23 Masih Ditahan, Kisah Mereka Memilukan Bekerja tanpa Kantor dan Rumah
Harian Yedioth Ahronoth dan Ynet—outlet berita anak perusahaan dari Yedioth Ahronoth Media Group—membandingkan dokumen setebal 55 halaman yang dirilis Netanyahu pada bulan Februari dengan catatan asli, ringkasan rapat, dan kesaksian.
Investigasi tersebut menemukan adanya penghilangan informasi serta perubahan pada pemilihan kata dan konteks, khususnya terkait peringatan yang disampaikan pada bulan-bulan sebelum serangan dan usulan tindakan militer terhadap Hamas.
Dokumen Netanyahu menggambarkan dirinya sebagai pihak yang mendesak dilakukannya pembunuhan terhadap para pemimpin Hamas, sementara para pejabat tinggi keamanan menentang langkah tersebut dan lebih memilih untuk menjaga ketenangan di Gaza.
Namun, menurut investigasi tersebut, catatan asli menunjukkan bahwa Netanyahu justru berulang kali berupaya menjaga ketenangan, menolak menyetujui usulan serangan, dan bersikeras bahwa Hamas masih dapat dicegah (terintimidasi) meskipun ada peringatan dari pejabat keamanan.
Surat kabar tersebut melaporkan bahwa pada bulan April 2023, kepala Shin Bet saat itu, Ronen Bar, dan kepala angkatan darat saat itu, Herzi Halevi, merekomendasikan operasi pembunuhan terarah di Gaza.
Sebulan kemudian, Bar memperingatkan bahwa kampanye militer di Gaza pada akhirnya tidak dapat dihindari dan mendesak dilakukannya persiapan untuk serangan pembuka serta operasi pembunuhan terarah.
Akan tetapi, Netanyahu menyatakan bahwa terdapat "keseimbangan pencegahan yang kuat" dengan Hamas dan tidak menyetujui operasi yang diusulkan tersebut.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Kamis, 8 Oktober 2026, investigasi itu juga mengutip peringatan dari Bar pada bulan Agustus yang menyatakan bahwa daya cegah Israel sedang melemah dan tindakan preventif di Gaza perlu dipertimbangkan.
Pada tanggal 10 September, Bar memperingatkan bahwa Israel sedang menghadapi situasi keamanan yang serius dengan risiko signifikan terjadinya eskalasi yang melibatkan berbagai front secara bersamaan.
Menurut laporan tersebut, Netanyahu kemudian menetapkan tujuan untuk menjaga periode liburan mendatang agar berlangsung "setenang mungkin."
Surat kabar itu menyebutkan bahwa dokumen Netanyahu bulan Februari tersebut tetap memuat penilaian intelijen yang menyatakan Hamas sedang meningkatkan kemampuannya dengan kecepatan moderat, namun menghilangkan rekomendasi untuk mengambil tindakan meskipun ada risiko eskalasi militer.