
UPdates—Singapura menjadi kota dengan udara paling tercemar di dunia pada hari Rabu karena asap dari kebakaran hutan di Indonesia menyelimuti kawasan Asia Tenggara dan memaksa sekolah-sekolah di Malaysia untuk ditutup.
You may also like :
Kalahkan Vietnam, Malaysia Juara 3 FIFA ASEAN Cup 2026
Kualitas udara di kota tersebut turun ke kategori sangat tidak sehat pada Rabu sore, menurut perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, yang menempatkan Singapura di peringkat pertama dunia untuk tingkat polusi.
You might be interested :
Tentukan Nasib Sendiri, Indonesia Wajib Pesta Gol Lawan Bangladesh untuk Lolos Final FIFA ASEAN Cup 2026
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Independent, Kamis, 8 Oktober 2026, sebelumnya pada hari yang sama, ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, sempat menempati peringkat teratas tersebut.
Badan Lingkungan Hidup Nasional (National Environment Agency/NEA)—yang mengukur kualitas udara menggunakan Pollutant Standards Index (Indeks Standar Polutan) miliknya sendiri—menyatakan bahwa kualitas udara di kelima wilayah Singapura berada pada tingkat tidak sehat.
Tingkat ini berada dalam rentang indeks 101 hingga 200, satu tingkat di bawah kategori sangat tidak sehat.
Pada Kamis pukul 07.00 pagi, angka rata-rata 24 jam yang dicatat badan tersebut menunjukkan angka 109 untuk wilayah pusat Singapura dan 111 untuk wilayah timur.
Badan tersebut memprediksi kondisi kering akan melanda sebagian besar wilayah selatan Asia Tenggara dalam beberapa hari ke depan; kondisi ini diperkirakan akan mempertahankan risiko kebakaran hutan dan kabut asap tetap tinggi.
Di Malaysia, seluruh sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak di Batu Pahat—sebuah wilayah di negara bagian Johor (wilayah selatan) yang terletak sekitar 140 km di barat laut Singapura—diperintahkan untuk tutup.
Perintah ini dikeluarkan setelah Indeks Polutan Udara di wilayah tersebut mencapai angka 203—masuk dalam kategori sangat tidak sehat—pada Selasa pagi.
Komite penanggulangan bencana setempat menyatakan bahwa pembukaan kembali sekolah akan bergantung pada hasil pemantauan kualitas udara.
Perintah penutupan ini berdampak pada hampir 200 sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak di Batu Pahat.
Kabut asap ini disebabkan oleh kebakaran hutan yang tak terkendali di Indonesia, di mana praktik pembukaan lahan pertanian dengan cara pembakaran berpadu dengan fenomena El Nino yang semakin menguat—sebuah siklus iklim alami yang menyebabkan kekeringan pada lahan.
Menurut SiPongi, platform pemantauan kebakaran yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, jumlah titik panas (hotspot) pada bulan lalu merupakan yang tertinggi sejak tahun 2015.
Pada tahun 2015, kabut asap regional menyebabkan gangguan luas serta ketegangan diplomatik antara Indonesia dan negara-negara tetangga.
Kelompok kampanye Greenpeace mengidentifikasi lebih dari 20 perusahaan kelapa sawit, bubur kertas (pulp), dan gula yang konsesi lahannya menjadi sumber asap kebakaran, termasuk beberapa perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Malaysia dan Singapura.
Kabut asap ini muncul beberapa hari sebelum ajang balap Formula Satu, Singapore Grand Prix, dimulai pada hari Jumat. Penyelenggara balapan, Singapore GP, menyatakan pada hari Selasa bahwa mereka akan bekerja sama erat dengan instansi terkait untuk menilai situasi sebelum mengambil keputusan bersama mengenai acara tersebut jika kabut asap menimbulkan masalah terkait jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau operasional.
Seorang juru bicara Formula Satu mengatakan bahwa kondisi saat ini tidak sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan, demikian dilaporkan Bloomberg.
Pekan lalu, penyelenggara Standard Chartered Marathon di Kuala Lumpur membatalkan lomba lari kategori anak-anak karena masalah kesehatan, namun tetap melanjutkan lomba kategori lainnya, termasuk maraton penuh dan setengah maraton. Pada tahun 2015, ajang maraton tersebut sempat dibatalkan.