The K Facts - Dunia hari ini seperti panggung sandiwara yang lupa menurunkan tirainya.
You may also like :
Presiden Iran: AS Terpaksa Ikut Perang karena Melihat Israel Dihancurkan
You might be interested :
Masoud Pezeshkian Sebut Iran sedang dalam Perang Skala Penuh dengan Barat
Gaza masih berdarah, Rusia dan Ukraina juga masih keras kepala, sementara NATO yang berdiri di tengahnya malah sibuk mengipas bara.
Dari balik ruang oval di Gedung Putih, Donald Trump kembali hadir sebagai variabel kekacauan yang dibungkus kepercayaan diri.
Setelah menginvasi Venezuela, kini giliran Iran yang diancam.
Ia juga membuat Eropa meradang lewat niatnya mencaplok Greenland.
Trump kini menggunakan bahasa kekuasaan yang mendominasi ruang internasional tanpa malu.
Dan dalam senja di Eropa yang selalu terlambat menua, dunia dibuat bergetar oleh pernyataan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán.
Bayang-bayang perang dunia ketiga tak lagi hanya mimpi buruk para penyair, melainkan bisik liar di lorong-lorong istana dan ruang kepresidenan.
Orbán membocorkan rencana para pemimpin Eropa yang diam-diam tengah membentuk “dewan perang”.
Tanpa pengumuman, ternyata perang dunia ketiga tengah dipersiapkan dalam senyap. Lewat rapat tertutup, senyum diplomatik dan pidato penuh kepura-puraan.
Uni Eropa tak lagi sibuk merawat damai, melainkan menghitung peluang menang dalam laga bertajuk “Perang Dunia Ketiga”.
Jika perang global benar-benar meledak, ekonomi dunia akan tersedak.
Pangan menjadi senjata, energi berubah menjadi alat tekan, manusia kembali dihitung sebagai angka statistik, dan rakyat kecil kembali menjadi korban paling setia dari konflik yang tak pernah mereka pesan.
Indonesia mungkin tak ikut menembakkan peluru, tapi tetap akan menanggung getarnya.
Perang selalu dijual atas nama kehormatan, keamanan, dan kemenangan.
Namun sejarah tak pernah lupa, yang menang hanyalah ambisi, sementara yang kalah selalu manusia.
Kita tentu berharap dunia kali ini cukup dewasa untuk tidak mengulang kebodohan yang sama.
The K Facts - Dunia hari ini seperti panggung sandiwara yang lupa menurunkan tirainya.
Gaza masih berdarah, Rusia dan Ukraina juga masih keras kepala, sementara NATO yang berdiri di tengahnya malah sibuk mengipas bara.
Dari balik ruang oval di Gedung Putih, Donald Trump kembali hadir sebagai variabel kekacauan yang dibungkus kepercayaan diri.
Setelah menginvasi Venezuela, kini giliran Iran yang diancam.
Ia juga membuat Eropa meradang lewat niatnya mencaplok Greenland.
Trump kini menggunakan bahasa kekuasaan yang mendominasi ruang internasional tanpa malu.
Dan dalam senja di Eropa yang selalu terlambat menua, dunia dibuat bergetar oleh pernyataan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán.
Bayang-bayang perang dunia ketiga tak lagi hanya mimpi buruk para penyair, melainkan bisik liar di lorong-lorong istana dan ruang kepresidenan.
Orbán membocorkan rencana para pemimpin Eropa yang diam-diam tengah membentuk “dewan perang”.
Tanpa pengumuman, ternyata perang dunia ketiga tengah dipersiapkan dalam senyap. Lewat rapat tertutup, senyum diplomatik dan pidato penuh kepura-puraan.
Uni Eropa tak lagi sibuk merawat damai, melainkan menghitung peluang menang dalam laga bertajuk “Perang Dunia Ketiga”.
Jika perang global benar-benar meledak, ekonomi dunia akan tersedak.
Pangan menjadi senjata, energi berubah menjadi alat tekan, manusia kembali dihitung sebagai angka statistik, dan rakyat kecil kembali menjadi korban paling setia dari konflik yang tak pernah mereka pesan.
Indonesia mungkin tak ikut menembakkan peluru, tapi tetap akan menanggung getarnya.
Perang selalu dijual atas nama kehormatan, keamanan, dan kemenangan.
Namun sejarah tak pernah lupa, yang menang hanyalah ambisi, sementara yang kalah selalu manusia.
Kita tentu berharap dunia kali ini cukup dewasa untuk tidak mengulang kebodohan yang sama.