
UPdates–Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia melakukan koordinasi intensif guna menyelamatkan empat Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang disandera perompak Somalia.
You may also like :
Makin Banyak WNI Jadi Pengelola Judi Online di Luar Negeri
Keempat ABK itu menjadi korban pembajakan kapal tanker MT Honour 25 di perairan Hafun, Somalia.
You might be interested :
Indonesia Tangguhkan Pengiriman Pasukan Perdamaian Ke Gaza
Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Kemlu RI Heni Hamidah menyatakan, pihaknya sudah menindaklanjuti laporan pembajakan yang terjadi pada Rabu, 22 April 2026 itu.
Menurutnya, KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia.
“Upaya saat ini difokuskan pada tindak lanjut penanganan yang melibatkan otoritas pemerintah setempat, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha terkait,” kata Heni melalui keterangan resmi, Senin, 27 April 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Info Publik.
Fokus utama pemerintah memastikan proses penanganan berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan nyawa para ABK.
Berdasarkan data yang dihimpun, keempat WNI tersebut berasal dari wilayah yang berbeda. Dua orang asal Sulawesi Selatan, satu orang dari Jawa Barat, dan satu orang dari Jawa Tengah.
Selain empat warga negara Indonesia, kapal tersebut juga membawa 10 warga negara Pakistan, satu warga negara India, dan satu warga negara Myanmar.
Pihak keluarga korban di Indonesia saat ini mulai menyuarakan kekhawatiran mereka.
Ibu kandung dari Kapten kapal Ashari Samadikun, Sitti Aminah, meminta Presiden RI Prabowo Subianto untuk segera mengambil tindakan tegas.
Ia mengungkap bahwa kapal yang dinakhodai anaknya tersebut sedang mengangkut komoditas minyak dan telah berlayar dari Oman sejak awal 2026.
Istri kapten kapal, Santi Sanjaya membeberkan bahwa dirinya sempat berkomunikasi dengan suaminya sesaat sebelum perompak mengambil alih kendali kapal.
Meski informasi terakhir menyebutkan para ABK dalam kondisi fisik yang baik, tekanan psikologis mulai dirasakan akibat situasi yang tidak menentu dan adanya tuntutan uang tebusan dari pihak pembajak.
“Dalam komunikasi terakhir, korban sempat menyebut kapalnya akan diserang perompak. Setelah berhasil terhubung kembali, diketahui para ABK dalam kondisi baik, tetapi mereka menghadapi tekanan psikologis karena situasi yang berubah-ubah,” tutur Santi.
Hingga berita ini diturunkan, Kemlu RI bersama KBRI Nairobi masih terus memantau perkem bangan situasi secara saksama di lapangan.