
UPdates—Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan bahwa Washington tidak menutup kemungkinan melakukan serangan militer lanjutan terhadap Iran, bahkan saat pemerintahan Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
You may also like :
Trump Sebut Perang Darat Buang-Buang Waktu, Dikritik Presiden Brasil karena Sering Membual tentang Kekuatan Militernya
Pete Hegseth menegaskan hal itu saat ditanya apakah serangan kinetik (serangan fisik/militer) saat ini sedang ditangguhkan terhadap Iran.
You might be interested :
Sebut Dirinya akan Kalah di Pilpres Amerika, Trump Gugat Surat Kabar dan Tim Survei
"Tidak. Jika kami perlu menggunakan serangan kinetik, kami akan menggunakannya," katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Selasa, 25 Agustus 2026.
"Jika Iran cukup bodoh untuk bertindak terlalu jauh atau mengusik militer Amerika, kami akan melakukan apa yang perlu dilakukan," lanjutnya. Kepada wartawan usai berpidato di hadapan pekerja industri pertahanan di Oshkosh, Wisconsin, ia juga mendesak kontraktor pertahanan AS untuk beralih ke status siaga perang.
Hegseth mengatakan tekanan ekonomi saat ini paling berdampak buruk bagi Iran, namun menambahkan bahwa AS sama sekali tidak menutup kemungkinan serangan di mana pun di Selat Hormuz atau di sekitar Iran.
Ia juga mengklaim AS memegang kendali atas Selat Hormuz, seraya menyebut blokade Washington sangat kokoh dan menyatakan bahwa Iran tidak dapat mengalirkan minyak melalui jalur perairan tersebut, sementara AS mampu melindungi pelayaran.
Hegseth menolak membahas laporan bahwa stok rudal jarak jauh ATACMS milik AS telah menipis secara signifikan akibat konflik yang sedang berlangsung.
Menurutnya, militer masih memiliki persediaan yang melimpah.
USS Abraham Lincoln dalam perjalanan pulang
Hegseth juga mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln sedang dalam perjalanan pulang setelah masa penugasan yang diperpanjang.
"Kepada para pelaut dan keluarga awak kapal Lincoln, saya ucapkan semoga selamat dalam misi bersejarah ini. Selamat, kalian sedang dalam perjalanan pulang," ujarnya, seraya menggambarkan penugasan tersebut sebagai tugas yang "berat" dan lebih lama dari biasanya.
Kapal Lincoln telah menghabiskan waktu lebih dari delapan bulan tanpa singgah di pelabuhan mana pun, sebuah rekor bagi Angkatan Laut AS.
Keluarga para pelaut telah melaporkan memburuknya kondisi dan semangat kerja di atas kapal induk tersebut, meskipun Hegseth menyatakan bahwa klaim-klaim semacam itu telah disalahartikan sepenuhnya.