Ekspresi wajah mumi yang tampak seperti sedang berteriak ini telah menjadi misteri selama lebih dari 90 tahun (Foto: Sahar N. Saleem/S Samia El-Merghani/Frontiers in Medicine/Cover Media)

Misteri “Mumi yang Menjerit” dari Mesir Akhirnya Terungkap

10 September 2026
Font +
Font -

UPdates—Para ilmuwan telah memecahkan misteri di balik kematian seorang mumi Mesir yang tampak seolah-olah sedang menjerit selama 3.000 tahun.

You may also like : 490942283 18501326251054438 2311434817096423236 nTerlibat Jaringan Narkoba, Presenter TV Terkenal di Mesir Divonis Hukum Mati dengan Cara Digantung

Jenazah perempuan yang ditemukan di Thebes pada tahun 1935 ini telah menghadirkan teka-teki bagi para arkeolog.

You might be interested : patung kura kura anadolu25 Patung Kura-Kura Berusia 16.500 Tahun Ditemukan di Turki

Mulutnya terbuka, wajahnya tampak terdistorsi, dan kepalanya sedikit miring ke satu sisi—yang berarti wajahnya secara permanen terkunci dalam ekspresi menjerit.

Awalnya, ia diduga mengalami proses mumifikasi yang buruk, namun penemuan perlengkapan pemakaman yang mewah di lokasi tersebut menunjukkan hal sebaliknya.

Dikenal hanya sebagai 'perempuan yang menjerit', ia dimakamkan bersama anggota keluarga Senmut, seorang arsitek kerajaan dan orang kepercayaan dekat Hatshepsut, ratu dari dinasti ke-18 yang kemudian menjadi firaun.

Pemakamannya tampak mewah, dengan bukti penggunaan bahan-bahan impor yang mahal dalam proses pembalseman.

Jenazah, balutan kain linen, dan rambut palsu yang rumit dilapisi dengan resin impor, termasuk kemenyan dan juniper.

Rambut palsunya tidak terbuat dari rambut manusia. Sebaliknya, rambut itu dibuat dengan cermat dari serat pohon kurma, diwarnai dengan pacar (henna) kemerahan, dan dilapisi bubuk kristal yang mengandung kuarsa, magnetit, dan albit.

Semua bukti menunjukkan bahwa ia dibalsem dengan hati-hati, bukan merupakan korban dari proses yang gagal atau asal-asalan.

Jenazah tersebut diperiksa pada tahun 2024 oleh Sahar Saleem, seorang ahli radiologi mumi di Universitas Kairo, dan Samia El-Merghani dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir.

Para peneliti menggunakan teknik non-destruktif, termasuk sinar-X dan pemindaian CT, serta mikroskopi elektron pemindaian (scanning electron microscopy), spektroskopi inframerah transformasi Fourier, dan difraksi sinar-X.

Pemeriksaan tersebut memberikan gambaran rinci mengenai kondisi fisik perempuan itu. Tingginya sekitar 1,5 meter dan ia diperkirakan meninggal pada usia sekitar 48 tahun.

Para peneliti meyakini bahwa ekspresi wajah perempuan yang tidak biasa itu mungkin disebabkan oleh kondisi yang dikenal sebagai spasme kadaver (cadaveric spasm).

Berbeda dengan rigor mortis (kekakuan mayat) yang memengaruhi tubuh secara umum, spasme kadaver diperkirakan memengaruhi otot-otot tertentu dan dapat terjadi tepat pada saat kematian.

Fenomena ini masih belum dipahami sepenuhnya. Para peneliti menyatakan bahwa ekspresi wajah wanita tersebut mungkin mengindikasikan ia mengalami rasa sakit yang hebat atau kepanikan sesaat sebelum meninggal.

"Ekspresi wajah mumi yang tampak seperti sedang berteriak dalam penelitian ini dapat ditafsirkan sebagai cadaveric spasm (kejang mayat), yang menyiratkan bahwa wanita itu meninggal sambil berteriak karena penderitaan atau rasa sakit yang luar biasa," ungkap mereka dalam studi yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Medicine sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Metro, Kamis, 10 September 2026.

Mereka menambahkan bahwa para pembalsem kemungkinan memumikan tubuh wanita tersebut dalam kondisi otot yang menegang, sebelum tubuhnya membusuk atau menjadi rileks.

“Sehingga mempertahankan posisi mulut yang terbuka saat kematian. Ada kemungkinan pula bahwa otot-otot yang menegang itu menghalangi pembalsem untuk menutup mulutnya," jelas studi itu.

Penyebab kematiannya masih belum diketahui. Tanda-tanda keausan terlihat pada gigi dan sendinya, yang mengindikasikan dampak fisik dari penuaan. Lengan-lengannya diletakkan di sisi tubuh, dengan kedua tangan hampir bersentuhan di atas pangkuannya.

Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun memiliki status sosial yang tinggi, ia kemungkinan bukan anggota keluarga kerajaan. Mumi anggota keluarga kerajaan umumnya digambarkan dengan posisi lengan bersilang di atas dada.

Pertanyaan lain yang belum terjawab adalah mengapa organ-organ dalamnya tetap berada di dalam tubuh. Pada masa itu, para pembalsem Mesir telah mengembangkan teknik yang memungkinkan organ dikeringkan lalu dikembalikan ke dalam tubuh, sehingga penggunaan bejana kanopik terkadang hanya bersifat simbolis.

Namun, para peneliti tidak menemukan bekas sayatan yang menunjukkan bahwa organ-organ tersebut pernah dikeluarkan.

Peristiwa medis yang mendadak dan menyakitkan, seperti serangan jantung atau stroke, merupakan salah satu kemungkinan penyebabnya.

Aneurisma yang pecah juga bisa menyebabkan rasa sakit yang hebat, sementara teori lain menyebutkan bahwa wanita tersebut mungkin mengalami gigitan ular berbisa. Tapi, tidak ditemukan adanya bekas gigitan selama pemeriksaan fisik.

Para peneliti menegaskan bahwa bukti yang ada tidak dapat memastikan kemungkinan mana—jika ada—yang menjadi penyebab sebenarnya.

Hal yang lebih jelas adalah bahwa ekspresi tersebut kemungkinan bukan akibat dari proses pembalseman yang ceroboh. Sebaliknya, para pembalsem mungkin bekerja cukup cepat untuk mempertahankan posisi otot wanita itu sebelum tubuhnya menjadi rileks.

Jika penafsiran tersebut benar, maka momen penuh penderitaan di akhir hidupnya secara tidak sengaja telah terawetkan selama ribuan tahun.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >