
UPdates—Presiden AS, Donald Trump menolak usulan gencatan senjata tujuh hari dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
You may also like :
Gara-Gara Tulisan Candaan di Baju Foto Keluarga, CEO Bank Dipecat dan Diancam Dibunuh
Ia juga menyatakan bahwa dirinya memperkirakan kampanye pengeboman oleh militer AS akan berlanjut setelah pemilu sela.
You might be interested :
Di Wilayah Musuhnya, Presiden Iran Sampaikan Pidato Menantang: Kami tidak Akan Pernah Tunduk
Demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada hari Sabtu, 26 September 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari The Jerusalem Post.
Laporan tersebut muncul menyusul komentar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menyatakan bahwa kesepakatan dimaksud—yang mencakup langkah-langkah seperti pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran—akan jauh lebih baik jika dilakukan sebelum pemilu sela.
"Keputusannya bergantung pada pemerintah AS," ujar Araghchi saat berbicara kepada para wartawan di Sidang Umum PBB di New York pada hari Kamis.
Araghchi kembali menegaskan kepada wartawan di PBB pada hari Jumat bahwa pilihan ada di tangan AS untuk menerima dan melaksanakan rencana tujuh hari yang diusulkan Iran tersebut.
Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai syarat-syarat dalam rencana itu dipenuhi. "Iran tidak akan menyerahkan hak-hak kedaulatannya di bawah tekanan," tegas Araghchi.
Sebelumnya pada hari Jumat, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran tidak akan menunjukkan fleksibilitas terkait program nuklirnya, bahkan jika AS menerima usulan tersebut.
Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan pada hari Jumat bahwa Amerika Serikat sedang melakukan diskusi yang positif dan konstruktif dengan Iran melalui pihak penengah serta terus membahas masalah nuklir.