
UPdates—Delapan anggota Marinir AS terluka dua minggu lalu ketika rudal jelajah anti-kapal milik Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz.
You may also like :
Menlu Iran Tegaskan Mereka Siap Perang "Kiamat", Trump Bilang Negosiasi Akan Dilanjutkan
NBC News melaporkan kejadian itu pada hari Minggu waktu Amerika mengutip keterangan tiga pejabat AS.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa para Marinir itu tidak mengalami cedera parah, namun menderita akibat menghirup asap dan kemungkinan mengalami cedera otak traumatis setelah menunjukkan gejala mirip gegar otak, termasuk sakit kepala.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Senin, 28 September 2026, tujuh dari anggota Marinir tersebut adalah personel tamtama. Sementara satu orang lainnya adalah perwira.
Menurut para pejabat tersebut, kedelapan personel itu telah kembali bertugas tak lama setelah serangan tanggal 14 September tersebut.
Mereka mengatakan bahwa para Marinir itu sedang bertugas sebagai bagian dari tim pendaratan batalion saat rudal Iran menghantam kapal tersebut.
Para pejabat menyatakan bahwa kapal itu bukan milik Angkatan Laut AS, namun mereka menolak merinci jenis kapalnya dan hanya menyebutnya sebagai kapal maritim.
Pentagon menghadapi sorotan yang kian meningkat terkait jumlah korban sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada bulan Februari, di mana angka prajurit yang terluka dan tewas mengalami perubahan dalam hal pelaporan dan klasifikasi.
Hingga hari Rabu, Sistem Analisis Korban Pertahanan (DCAS) milik Pentagon telah mencatat 861 personel militer AS yang terluka dalam konflik tersebut.
Kedelapan Marinir itu dimasukkan ke dalam basis data hampir 10 hari setelah serangan 14 September, sementara seorang pejabat AS mengaitkan keterlambatan pelaporan tersebut dengan gejala yang mungkin baru muncul belakangan serta kurangnya pembaruan data secara real-time pada sistem tersebut.