
UPdates—Terjadi dua gempa cukup kuat dalam waktu berdekatan pada Minggu 4 Oktober 2026 pagi.
You may also like :
Fenomena Blue Fire Papandayan: Indah Dilihat, tapi Waspadai Bahayanya
Gempa Sumba Barat Daya dengan Magnitudo 5,9 terjadi pukul 05.55.52 WIB. Kemudian 41 menit 41 detik atau pukul 06.37.33 WIB gempa Aceh Jaya menyusul dengan kekuatan Magnitudo 5,7.
You might be interested :
Korban Meninggal Gempa NTT 111 Orang, Sudah 9.278 Gempa Susulan
Gempa Sumba berkedalaman 30 km memiliki mekanisme sesar turun (normal fault), yang menunjukkan proses peregangan kerak bumi.
Sementara gempa Aceh berkedalaman 55 km bermekanisme sesar naik (thrust fault), berkaitan dengan proses kompresi pada sistem subduksi megathrust Sumatra.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr Daryono menjelaskan, gempa Sumba yang lebih dangkal menghasilkan guncangan hingga VI MMI (berpotensi merusak), lebih kuat daripada Aceh yang mencapai IV MMI (hanya guncangan kuat).
“Ini mengingatkan bahwa kuatnya guncangan di permukaan tidak hanya ditentukan magnitude saja, tetapi juga kedalaman sumber, jarak, karakter batuan yang dilalui gelombang, dan kondisi tanah setempat,” katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari unggahan Daryono di X, Minggu, 4 Oktober 2026.
Daryono mengatakan, meskipun waktunya sangat berdekatan, kedua gempa tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Menurutnya, sumber gempat tersebut terpisah ribuan kilometer dan mekanisme tektoniknya berbeda.
“Jadi, berdekatan dalam waktu bukan berarti berkaitan secara tektonik. Dua gempa dalam waktu kurang dari 42 menit ini justru menggambarkan betapa aktif dan kompleksnya tektonik Indonesia: banyak sumber gempa dapat mengakumulasi dan melepaskan energi secara independen pada waktu yang kebetulan berdekatan,” jelasnya.