
UPdates—Di tengah situasi Paris yang sedang membara dan dilanda kerusuhan, gambar-gambar luar biasa memperlihatkan orang-orang yang tetap beraktivitas seperti biasa.
You may also like :
Situasi Sudah tak Terkendali, Perdana Menteri Prancis Perintahkan Pemberlakuan Jam Malam
Baik pengunjung maupun penduduk setempat tetap menunjukkan sikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Akhir pekan ini, sepasang kekasih tampak menikmati minuman cognac dan rokok di sebuah bistro (restoran kecil) di pusat kota Paris, meski kerusuhan hebat terjadi hanya beberapa meter dari mereka.
Rekaman yang diunggah Metro memperlihatkan mereka sama sekali tidak terganggu meski orang-orang di luar sudah mulai melakukan pembakaran di jalan.
Pasangan itu hanya sesekali melirik keluar dan sama sekali tidak terlihat panik. Sebaliknya, mereka santai menikmati suasana sambil mengobrol.
Dalam pemandangan lain yang terasa surealis, seorang pemain alat musik bagpipe memainkan melodi di tengah aksi protes, sementara suara ledakan suar terdengar di latar belakang, dekat dengan polisi antihuru-hara yang mengenakan perlengkapan lengkap.
Para wisatawan juga tampak bertekad untuk tetap menikmati ibu kota Prancis tersebut meskipun situasi sedang tidak kondusif.
Video yang dibagikan akun X @RafaelSereti memperlihatkan dua wanita, yang tampak tidak terganggu sama sekali, mendorong koper mereka melewati sekelompok pria bertopeng yang baru saja melemparkan granat asap.
“ANEH. Saat dua turis berlibur di Paris pada waktu yang tidak tepat,” tulis akun tersebut sebagaimana dipantau Keidenesia.tv, Selasa, 20 Oktober 2026.
Pihak berwenang dikabarkan telah memberlakukan jam malam di empat wilayah Paris sebagai upaya untuk meredam kekerasan.
Jam malam akan diberlakukan sepanjang malam, mulai pukul 23.00 hingga 06.00, mencakup kawasan Place de la République dan Les Halles; baik orang dewasa maupun anak di bawah umur dilarang berada di area tersebut.
Sementara itu, para pengunjuk rasa di Paris telah memblokir pintu masuk museum dan galeri seni Louvre, di tengah kekhawatiran bahwa demonstrasi kekerasan ini akan terus berlanjut hingga pekan depan.
Kerusuhan pada 17 Oktober, yang dipicu oleh kemarahan terhadap tingginya biaya hidup dan minimnya peluang bagi siswa sekolah menengah, telah menyebabkan ribuan orang ditangkap di seluruh Prancis.
Pada Senin pagi waktu Prancis, Presiden Emmanuel Macron menyatakan telah menolak pengunduran diri Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez, yang belakangan ini berada di bawah tekanan hebat.
Dalam sebuah pernyataan, Istana Élysée menyebutkan bahwa keputusan untuk menolak pengunduran diri tersebut diambil karena perlunya kepemimpinan yang berkelanjutan dalam penegakan hukum pada saat ini.
Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi kemarin malam, Macron menyampaikan kepada seluruh rakyat Prancis bahwa mereka semua merasakan kemarahan dan rasa malu melihat aksi kekerasan yang terjadi.
"Saat melihat gambar-gambar ini, kita semua bertanya pada diri sendiri: Apa yang sebenarnya ada di benak mereka? Bagaimana mungkin orang Prancis tega melakukan ini terhadap Prancis?" tegasnya dilansir dari Metro.
Kerusuhan ini terjadi kurang dari enam bulan menjelang pemilihan presiden yang krusial—pemilihan di mana Macron tidak dapat mencalonkan diri kembali karena telah mencapai batas masa jabatannya.
Menurut jajak pendapat terbaru, tokoh populis sayap kanan Marine Le Pen unggul sekitar 20 poin persentase atas pesaing terdekatnya, Jean-Luc Mélenchon dari kubu sayap kiri.
Gambar-gambar dari Paris memperlihatkan sekelompok kecil orang berdiri di depan pintu masuk Louvre, salah satu objek wisata terbesar di Prancis.
Mereka membentangkan sejumlah spanduk, salah satunya bertuliskan "Layanan publik Prancis sedang hancur" dalam bahasa Inggris.
Menurut BBC, kelompok tersebut membagikan selebaran yang menyatakan bahwa mereka bangga dapat memblokir museum terbesar di dunia dan mengkritik penindasan keras oleh polisi terhadap aksi protes tersebut.
Melalui sebuah unggahan di X, pihak museum mengonfirmasi bahwa mereka tutup pada Senin akibat aksi mogok kerja.
Kelompok yang dikenal sebagai gerakan "rompi kuning" (gilets jaunes) dikabarkan telah menyerukan rangkaian protes baru pada hari Sabtu ini dan minggu berikutnya.
"Jelas ada dorongan kuat untuk menggelar 'Babak Kedua'," kata Benjamin Ball, editor situs web kelompok tersebut kepada AFP.
Sejauh ini, aksi protes tersebut telah mengakibatkan lebih dari 2.400 orang ditangkap serta kerusakan luas pada berbagai toko dan bangunan umum.
Di kota Limoges, Balai Kota yang dibangun pada abad ke-19 dibakar, yang menyebabkan menara dan atap bangunannya runtuh.
"Hak untuk memprotes adalah hak mendasar. Namun, tindakan sengaja dan kolektif untuk menciptakan kekacauan melalui kekerasan bukanlah bagian dari hak tersebut," tegas Nuñez dalam sebuah unggahan di X.