Ilustrasi. (foto:Dok.mandirisekuritas.co.id)

Hari Ini IHSG Anjlok ke 4.900, Sentuh Level Terendah Sejak Pandemi

19 October 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates – Pasar saham Indonesia masih bergerak bergejolak pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan harian terdalam dalam hampir tiga dekade terakhir pada akhir pekan lalu.

You may also like : ihsg bursaIHSG Kembali Anjlok

Pada pembukaan perdagangan hari ini IHSG dibuka anjlok tajam dan langsung ambruk 4,31% ke level 4.961,87 turun 223 poin poin dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.

You might be interested : 1769761423558Setelah Dirut BEI, Giliran Ketua DK OJK dan Pengawas Pasar Modal yang Mengundurkan Diri

Level perdagangan hari ini tercatat terendah sejak Oktober 2020. Ini merupakan kali pertama indeks balik ke level 4.900 semenjak pandemi covid mengguncang pasar keuangan.

Emiten blue chip dengan kapitalisasi pasar besar tercatat masih menjadi pemberat kinerja IHSG. Saham BBCA, BBRI, BYAN, TLKM dan BBRI tercatat menjadi laggard perdagangan hari ini.

Sebelumnya, pada Jumat, 16 Oktober lalu, IHSG ambles 11,6%. Ditambah koreksi hari ini, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah terpangkas 43% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), menjadikannya indeks dengan kinerja terburuk di dunia di antara indeks-indeks utama.

Kejatuhan tajam itu dipicu pengumuman MSCI yang menyatakan tengah mempertimbangkan pemindahan Indonesia dari kategori emerging markets menjadi pasar berstatus standalone.

Jika terealisasi, status standalone berisiko memutus akses Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, terhadap aliran modal internasional. Indonesia juga akan dikelompokkan bersama pasar standalone lain seperti Lebanon dan Zimbabwe.

Sebelumnya, pada Januari lalu, MSCI sempat mengancam menurunkan Indonesia ke status frontier market karena minimnya transparansi kepemilikan saham dan perilaku perdagangan.

Namun, dalam pernyataan terbarunya, MSCI menilai kurangnya kemajuan dalam membenahi persoalan tersebut membuat penurunan ke status frontier pun tidak lagi mencerminkan seriusnya masalah yang ada.

"Beban pembuktian kini telah bergeser. Untuk menghindari reklasifikasi, dibutuhkan bukti nyata bahwa reformasi yang diumumkan telah dijalankan secara konsisten dan memperbaiki fungsi pasar secara material," tulis ahli strategi Goldman Sachs dalam risetnya, seperti dilansir Keidenesia.TV dari CNBCIndonesia, Senin, 19 Oktober 2026.

BEI Pangkas Batas ARB

Merespons gejolak tersebut, BEI pada Senin, 19 Oktober 2026, memangkas batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7% dari sebelumnya 15%.

Menurut BEI, kebijakan ini diambil untuk memberi kesempatan bagi investor mengevaluasi dan mencerna informasi yang tersedia, sehingga keputusan investasi dapat diambil berdasarkan fundamental ekonomi Indonesia.

Langkah tersebut diambil setelah regulator jasa keuangan menggelar pertemuan dengan pelaku pasar modal, termasuk analis dan ekonom, pada akhir pekan. Di sisi lain, pada Jumat lalu regulator juga mengumumkan sanksi terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat manipulasi perdagangan saham tiga perusahaan.

Potensi Arus Keluar Rp100 Triliun

Goldman Sachs memperkirakan, jika Indonesia benar-benar dikeluarkan dari indeks MSCI, arus keluar dana pasif bisa mencapai US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun.

Sementara itu, dana aktif yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan memegang aset lebih dari US$8 miliar atau Rp144 triliun, meski aksi jualnya bersifat diskresioner, bukan otomatis mengikuti indeks.

Hingga kini, investor asing telah mencatatkan jual bersih (net sell) saham Indonesia senilai US$4,88 miliar atau setara Rp87,84 triliun sepanjang 2026. Angka ini berpotensi menjadi arus keluar tahunan terbesar dalam setidaknya 16 tahun terakhir.

Kepala Strategi Makro dan Investasi Asia BNY Investments, Aninda Mitra, menilai eksposur asing di saham Indonesia sudah menyusut cukup dalam sehingga ruang penurunan lanjutan kemungkinan tidak terlalu besar.

Namun, ia mengingatkan bahwa menarik modal dalam jumlah besar akan semakin sulit di tengah kondisi saat ini, meskipun masih ada perusahaan dan bank dengan fundamental yang solid.

Rupiah dan Obligasi Ikut Tertekan

Peringatan MSCI menambah daftar tekanan bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Awal tahun ini, Moody's dan Fitch telah menurunkan prospek (outlook) peringkat utang Indonesia menjadi negatif.

Kekhawatiran investor juga meluas ke luar pasar saham yang bernilai sekitar US$500 miliar atau sekitar Rp9.000 triliun. Rupiah melemah ke level Rp18.000 per dolar AS, tak jauh dari rekor terlemahnya di Rp18.190/US$ yang tercapai pada Juni lalu.

Manajer portofolio Allspring Global Investments di Singapura, Gary Tan, mengatakan kekhawatiran utamanya bukan pada aksi jual terkait indeks, melainkan potensi rambatan jangka pendek ke rupiah dan imbal hasil obligasi domestik.

"Dislokasi pasar bisa berujung pada pengetatan kondisi keuangan dan dampak yang lebih berarti terhadap perekonomian riil," ujarnya.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

capture

Mark Twain

"Rahasia untuk maju adalah memulai."
Load More >