Christa Pike memasuki Pengadilan Pidana Knox County di Knoxville, Tennessee pada 4 Desember 2007 (Foto: J. Miles Cary, USA Today Network via Reuters)

Kisah Cinta Remaja dan Sekte Setan di Balik 2 Eksekusi Suntik Mati Christa Pike yang Gagal

3 October 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates—Eksekusi terhadap terpidana mati Christa Gail Pike di Lapas Riverbend, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, pada Rabu, 30 September 2026 menjadi sorotan dunia.

You may also like : pike terpidana mati afp7 Suntikan dan Terpidana Mati Masih Hidup, Pengacara Minta Hukuman Diringankan karena Sudah “Disiksa”

Dua dosis cairan mematikan berjenis pentobarbital yang disuntikkan ke tubuh wanita itu dalam delapan upaya suntikan gagal merenggut nyawa Christa Pike yang berusia 50 tahun.

You might be interested : narkoba pasta gigiPengadilan Vietnam Vonis Mati 11 Orang dalam Kasus Narkoba “Pasta Gigi”

Alih-alih meninggal, ia kehilangan kesadaran namun jantungnya tetap berdetak dan terdengar mendengkur serta masih bernapas secara ritmis.

Atas permintaan pengacaranya, Pike kemudian dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan medis darurat dan hingga Sabtu sore WITA masih dalam kondisi kritis.

Ini dianggap kasus pertama di mana dua suntikan belum bisa merenggut nyawa terpidana mati dan Gubernur Tennessee, Bill Lee, memerintahkan peninjauan independen dan menyeluruh atas kegagalan prosedur ini serta menunda jadwal eksekusi lainnya untuk tahun ini.

Semua kehebohan ini terjadi dan bermula dari kisah cinta anak remaja 90-an. Pike (18 tahun) merancang rencana menghabisi teman sekelasnya, Colleen Slemmer (19 tahun) karena ia mengira Slemmer menaruh hati pada pacarnya, Tadaryl Shipp (17 tahun).

Pada Kamis, 12 Januari 1995, Christa Pike membunuh Colleen Slemmer karena rasa cemburu yang obsesif dan paranoia bahwa Colleen mencoba merebut Tadaryl Shipp darinya.

Berdasarkan kesaksian di persidangan, kecemburuan ini memicu kemarahan Pike yang tidak terkendali, diperparah oleh masalah kesehatan mental yang tidak tertangani serta latar belakang masa kecilnya yang penuh dengan kekerasan dan trauma.

Pike dan Shipp yang saat itu merupakan peserta program pelatihan kerja Knoxville Job Corps di Tennessee bersama seorang rekan lain bernama Shadolla Peterson (18 tahun) menyusun rencana untuk menjebak korban.

Mereka membujuk Colleen untuk ikut berjalan-jalan ke area terpencil di dekat kampus pertanian Universitas Tennessee dengan alasan ingin berdamai dan menghisap ganja bersama.

Setibanya di sana, Pike dan Shipp langsung menyerang Colleen secara brutal. Mereka mengejek, menyayat tubuh korban dengan pisau cutter, dan mengukir bentuk pentagram di dadanya.

Saat Colleen mencoba melarikan diri, Pike mengejarnya dan menghantamkan bongkahan aspal ke kepala Colleen berkali-kali hingga tewas.

Sebelum meninggalkan lokasi, Pike mengambil pecahan tulang tengkorak Colleen sebagai kenang-kenangan atau trofi kejahatannya.

Sebagaimana dilansir dari Volopedia, Sabtu, 3 Oktober 2026, dua karyawan bagian pemeliharaan fasilitas UT menemukan jenazah Colleen keesokan paginya.

Christa Pike dan Tadaryl Shipp dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut. Shadolla Peterson, yang kemudian menjadi informan, dinyatakan bersalah karena terlibat sebagai pihak yang membantu kejahatan (accessory) dan dijatuhi hukuman dengan ketentuan pembebasan bersyarat.

Pike dinyatakan bersalah atas dakwaan pembunuhan dan persekongkolan pada 22 Maret 1996, lalu dijatuhi hukuman mati pada 30 Maret. Di usia 18 tahun, ia menjadi salah satu wanita termuda yang menerima vonis mati di Amerika Serikat pada era modern.

Shipp sementara itu dijatuhi hukuman seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat.

Pike sempat mengajukan banding atas vonisnya, membatalkannya, lalu mengajukan banding kembali. Pada Desember 2008, permohonan terbarunya untuk sidang ulang ditolak, dan ia dikembalikan ke deretan terpidana mati.

Pembunuhan keji tersebut menjadi sorotan karena adanya simbol pemujaan setan di tubuh korban.

Selama penyiksaan brutal yang berlangsung sekitar 30 menit, sebuah simbol pentagram (bintang berujung lima yang dikelilingi lingkaran, sering dikaitkan dengan kelompok pemuja setan atau okultisme) diukir di dada korban.

Dalam persidangan, Tadaryl Shipp mengakui bahwa dialah yang mengukir simbol tersebut ke tubuh korban menggunakan pemotong kertas.

Terungkap juga di persidangan bahwa Tadaryl Shipp sudah "mencicipi" ajaran satanisme sejak usia 10 tahun.

Saat polisi menggeledah kamar asrama pelaku, mereka menemukan barang-barang okultisme seperti Alkitab Setan (Satanic Bible), altar kecil, buku-buku pemujaan, serta perhiasan hexagram.

Dua hari setelah pembunuhan terjadi, Christa Pike dan Tadaryl Shipp ditangkap oleh pihak kepolisian saat keduanya kedapatan mengenakan kalung bermotif pentagram yang sama.

Meskipun kasus ini memicu kepanikan massal terkait sekte setan (Satanic Panic) di media lokal saat itu, Christa Pike dalam beberapa kesempatan dan dokumenter membantah bahwa dirinya adalah pengabdi setan.

Ia mengklaim motif utamanya murni karena cemburu dan menduga korban ingin merebut pacarnya, sementara ketertarikan pada satanisme lebih didominasi oleh Shipp.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

capture

Mark Twain

"Rahasia untuk maju adalah memulai."
Load More >