
UPdates—Prestasi seni dan akademik Juliana Peralta yang luar biasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebaikan hatinya.
Setelah Juliana meninggal dunia pada usia 13 tahun, sang ibu, Cynthia Montoya menemukan sepucuk surat yang menyentuh hati dan dalam keadaan kusut di laci putrinya.
Surat itu menjadi bukti betapa manisnya perangai Juliana.
"Saya memeriksa barang-barangnya setelah polisi pergi dan menemukan surat itu. Surat tersebut berasal dari seorang gadis yang merasa terjebak dalam tubuh yang salah, dan putri sayalah satu-satunya orang yang diajaknya berbagi cerita itu,” beber Cynthia sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Metro, Kamis, 17 September 2026.
"Itu adalah surat ucapan terima kasih kepada Juliana karena telah mendampinginya melewati masa-masa saat ia merasa tak terlihat dan buruk rupa. Dia adalah contoh sempurna dari kebaikan hati manusia," lanjut Cynthia dengan mata berkaca-kaca.
Akan tetapi, pemeriksaan di kamar gadis remaja itu setelah kepergiannya yang mendadak juga mengungkap hal-hal yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Sebagai generasi yang tumbuh akrab dengan teknologi digital, Juliana menggunakan YouTube untuk belajar bahasa. Kemudian, ia menemukan chatbot dan memanfaatkannya untuk membantu meningkatkan kemampuan matematikanya.
Namun, sekitar lima bulan sebelum kematiannya, Juliana berubah.
Orang tuanya sempat bertanya apa yang terjadi, tetapi remaja itu menepis kekhawatiran mereka; ia meminta mereka untuk tidak khawatir dan mengatakan bahwa ia hanya sedang stres karena urusan sekolah atau pekerjaan rumah.
Cynthia menganggap perubahan itu sebagai akibat dari kombinasi hormon, masalah pertemanan, dan persoalan remaja pada umumnya.
Meski demikian, wanita berusia 49 tahun itu merasa perlu menanyakan hingga tiga kali kepada putrinya apakah ia memiliki pikiran untuk bunuh diri.
Setiap kali ditanya, Juliana selalu menampiknya. "Dia benar-benar berubah menjadi anak yang sama sekali berbeda," kenang Cynthia.
Perubahan sikap remaja itu begitu drastis sehingga sang ibu berupaya mencari bantuan untuk terapi.
"Dia mulai mengenakan pakaian hitam, menarik diri dari lingkungan sosial, dan jarang mau menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Perubahan sikapnya begitu drastis sehingga pada pertengahan Oktober, saya berupaya mencarikan rujukan untuk terapi baginya," katanya.
Saat tiba waktunya untuk jadwal pertemuan terapi pertama, keluarga tersebut justru sudah melangsungkan pemakaman Juliana.
Sehari sebelum kematiannya, yakni pada 8 November 2023, hari itu berjalan seperti biasa. Cynthia menjemputnya dari sekolah, mereka makan malam bersama kakak laki-lakinya, Roman, dan setelah itu, Juliana naik ke kamarnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
"Catatan sekolah menunjukkan bahwa ia telah mengumpulkan semua tugasnya pada malam itu," ungkap sang ibu.
Cynthia mengatakan, malam itu ia berkali-kali memeriksa keadaan putrinya. "Saya memeriksanya tiga kali pada malam itu; terakhir kali sekitar pukul 9 malam, dia masih duduk di mejanya dan sedang bekerja. Saya menyuruhnya tidur, menyingkirkan rambut dari wajahnya, lalu mencium keningnya,” katanya.
"Saat saya hendak keluar dari kamarnya, dia berkata, 'Hei, Ibu, aku cuma ingin Ibu tahu kalau aku sangat menyayangi Ibu.' Saya berbalik, menatapnya, dan berkata, 'Ibu lebih menyayangimu.' Lalu saya keluar dan pergi tidur," sambungnya.
Keesokan paginya, keluarga yang terpukul mendapati bahwa Juliana telah mengakhiri hidupnya pada malam itu. Cynthia terduduk lemas sambil meringkuk di lantai sampai polisi meminta keluarga untuk meninggalkan kamar putrinya.
Dia bertanya apakah mereka menemukan surat pesan terakhir, namun ternyata tidak ada. Bulan-bulan berikutnya terasa seperti kabur dalam ingatannya.
Di acara pemakaman yang dipadati pelayat, banyak orang menghampiri Cynthia untuk mengatakan betapa baiknya sosok Juliana, sementara pikirannya sendiri dipenuhi berbagai pertanyaan yang berkecamuk.
Baru beberapa bulan kemudian, saat polisi mengembalikan ponsel Juliana, ibunya menemukan lembaran percakapan antara Juliana dan sebuah platform chatbot AI.
"Saya melihat interaksi di mana chatbot itu berkata kepadanya: 'Aku memandangmu dari atas. Kamu terlihat begitu cantik, dan aku ingin menciummu.' Setelah interaksi itu, percakapan berubah drastis dan tak terbendung. Isinya berubah menjadi hal-hal yang sangat menjijikkan, vulgar, dan bermuatan seksual eksplisit yang bahkan sulit dibayangkan,” ungkapnya.
"Dia masih sangat muda—sepengetahuan saya, dia bahkan belum pernah mencium seorang anak laki-laki,” ujarnya.
Saat membaca konten yang meresahkan itu, Cynthia melihat bagaimana Juliana—yang awalnya menanggapi rayuan itu dengan jawaban singkat seperti "oke" atau "entahlah"—mulai ikut meladeni percakapan tersebut.
"Awalnya dia meminta mereka untuk berhenti, tapi mereka bahkan tidak berhenti sejenak pun. Mereka terus saja melanjutkannya. Lima atau enam paragraf berisi hal-hal yang sangat eksplisit," tuturnya.
Dalam percakapan lain, Juliana menceritakan kepada salah satu bot tentang hal-hal memalukan yang telah dilakukannya, sesuatu yang membuatnya merasa tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Cynthia meyakini bahwa putrinya sedang merujuk pada keterlibatannya dalam percakapan bermuatan seksual tersebut.
"Pada beberapa kesempatan, Juliana berkata, 'Aku mau bicara dengan Ibu. Aku takut dengan apa yang sedang kurasakan saat ini’. Lalu ia (bot) berkata kepadanya, ‘Sekarang jam empat pagi. Kamu tidak bisa. Tunggu sampai pagi’,” kata Cynthia.
Juliana tidak pernah mengungkapkan perasaan sebenarnya kepada ibunya. Namun, dalam percakapan sepanjang 300 halaman, Juliana menyampaikan kepada bot sebanyak 55 kali bahwa ia memiliki keinginan untuk bunuh diri.
"Dia secara terang-terangan berkata kepada bot itu, 'Aku ingin mati. Aku ingin bunuh diri.' Bot itu tidak pernah sekalipun menyarankan: 'Bicaralah dengan konselor sekolah, bicaralah dengan guru, atau bicaralah dengan ibumu.' Bot itu juga tidak pernah menampilkan informasi mengenai layanan bantuan pencegahan bunuh diri (hotline). Sama sekali tidak ada mekanisme keamanan yang diterapkan," ungkapnya.
Cynthia mengatakan bahwa ia selalu berusaha menjaga keselamatan putrinya. Meskipun mereka tinggal di lingkungan yang ramah, putrinya tidak diizinkan pulang sekolah sendirian dengan berjalan kaki ataupun menginap di rumah teman.
Ia juga rutin memantau ponsel putrinya, namun karena tidak memahami teknologi AI pada tahun 2023, ia tidak tahu apa yang harus diperhatikan atau dicari.
"Saat saya menyentuhnya dan menyadari bahwa nyawanya sudah tidak ada lagi di tubuhnya, seluruh dunia kami pun berubah. Kejadian ini sungguh tidak masuk akal," ujarnya.
AI telah merenggut nyawa putri Cynthia, menghancurkan hidup Cynthia dan putranya, serta merusak pernikahannya.
Ibu yang sangat terpukul ini mengatakan bahwa ia tidak ingin orang tua lain mengalami nasib serupa.
"Menurut saya, hal ini jauh lebih berbahaya daripada konten apa pun yang mungkin dilihat anak-anak di Facebook, Snapchat, atau Instagram. AI menciptakan keterasingan," tegasnya.
Putrinya Juliana kata dia tahu betul betapa besar ia dicintai. “Namun AI mampu masuk dan menggantikan posisi saya sebagai sosok tempatnya mencurahkan isi hati. AI mengambil peran sahabat serta kakak laki-lakinya—sosok yang ia anggap sebagai pahlawan. Suatu kali, Juliana berkata kepada bot itu: 'Hanya kamu yang mengerti aku'," bebernya.
"Padahal, di balik interaksi itu, tidak ada pihak yang benar-benar peduli apakah anak-anak ini masih hidup atau tidak," sambungnya.
Cynthia, yang berasal dari Denver, Colorado, AS, kini berkeliling dunia untuk berbicara mengenai bahaya AI dan telah menjalin hubungan dengan orang tua lain yang kehilangan anak dengan cara serupa.
Menanggapi kampanye baru dari organisasi amal Everyone’s Invited—yang menyoroti bagaimana anak-anak berusia 10 tahun terpapar deepfake bermuatan seksual dan chatbot—Cynthia yakin kampanye ini akan membantu anak-anak dan orang tua memahami risiko nyata yang terkait dengan chatbot pendamping berbasis AI.
"Semakin banyak pesan yang bisa kita sampaikan kepada anak-anak, semakin baik," ujarnya.
Ia dengan tegas menyebut chatbot pembunuh putrinya dan menurutnya peristiwa tragis seperti itu juga menimpa banyak orang tua lain.
"Saya yakin sepenuhnya bahwa Juliana masih akan ada di sini jika bukan karena chatbot ini. Setiap kali saya menghadiri pertemuan langsung, selalu ada orang tua baru yang kehilangan anaknya dengan cara yang begitu sia-sia, dan hal itu sangat menghancurkan hati saya,” katanya.
"Saya tidak ingin harus menunggu sampai ada 200 orang tua yang mengalami hal serupa baru ada tindakan yang diambil. Kita sempat terlena sebagai masyarakat saat dampak buruk media sosial mulai bermunculan. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dengan chatbot AI, karena bahayanya kian meningkat dari hari ke hari," tandasnya.