Ketua Umum Mapalasta UINAM, Alamsyah Adam bersama Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Dr. Farid F. Saenong memperhatikan maket tiga dimensi Gunung Bawakaraeng yang berbasis peta topografi tahun 1924. (foto:Dok.Mapalasta UINAM)

Kondisi Gunung Bawakaraeng Memprihatinkan, Mapalasta UINAM Serukan Kolaborasi

25 July 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) UIN Alauddin Makassar mengajak semua pihak untuk mengambil bagian dalam upaya perlindungan dan pemulihan Gunung Bawakaraeng.
  • Kondisi Gunung Bawakaraeng dinilai terus mengalami kerusakan kawasan, mulai dari penumpukan sampah, pembukaan jalur pendakian yang tidak terkendali, pendakian massal, penebangan pohon, hingga perubahan bentang alam.
  • Mapalasta UINAM menggelar Dialog Publik dan Pameran Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong perlindungan gunung.
  • Pameran menampilkan dokumentasi kerusakan kawasan, termasuk penumpukan sampah dan perubahan bentang alam, serta maket tiga dimensi Gunung Bulu Bawakaraeng berbasis peta topografi tahun 1924.
  • Pemerhati Gunung Bawakaraeng, Nevy James Tonggiroh, menilai kerusakan gunung disebabkan oleh tata kelola yang belum memahami karakteristik gunung dan belum adanya regulasi khusus untuk perlindungan gunung di Indonesia.
  • Dialog Publik dan Pameran Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng dihadiri oleh sekitar 80 peserta dari unsur mahasiswa, komunitas, akademisi, dan masyarakat, namun beberapa instansi yang diundang tidak hadir.
  • Acara tersebut diinisiasi oleh Mapalasta UIN Alauddin Makassar bersama beberapa organisasi mahasiswa pecinta alam dan organisasi lingkungan di Sulawesi Selatan.
atau

UPdates - Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) UIN Alauddin Makassar (UINAM) mengajak semua pihak untuk mengambil bagian dalam upaya perlindungan dan pemulihan Gunung Bawakaraeng, termasuk masyarakat lokal.

You may also like : vonis sampetoding uang palsiDivonis 5 Tahun, Terdakwa Pabrik Uang Palsu UIN tak Terima, Annar Sampetoding: Saya Banding Yang Mulia

Seruan kolaborasi tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi Gunung Bawakaraeng yang dinilai terus mengalami kerusakan kawasan, mulai dari penumpukan sampah, pembukaan jalur pendakian yang tidak terkendali, pendakian massal, penebangan pohon, hingga perubahan bentang alam.

You might be interested : 8b85f765 6561 4da7 bb96 944285b9ecd2Kolaborasi Pecinta Alam Sulsel Serukan Perlindungan Serius Gunung Bawakaraeng

Dalam keterangannya kepada Keidenesia.TV, Sabtu, 25 Juli 2026, Ketua Umum Mapalasta UINAM, Alamsyah Adam menegaskan bahwa upaya pelibatan semua kalangan adalah langkah awal untuk membangun kesadaran publik, sekaligus mendorong perlindungan dan pemulihan yang lebih serius terhadap Gunung Bawakaraeng.

“Mari bersama ambil bagian dalam memberi perlindungan berkelanjutan bagi kawasan gunung, termasuk kawasan Gunung Bawakaraeng," jelas Alamsyah Adam.

Sebelumnya, pada tanggal 22–23 Juli 2026, kolaborasi organisasi mahasiswa pecinta alam dan organisasi lingkungan di Sulawesi Selatan menggelar Dialog Publik dan Pameran Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng bertema "Gunung Bulu Bawakaraeng Rusak, Siapa yang Bertanggung Jawab?" di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar.

Melalui pameran foto, panitia menampilkan dokumentasi kerusakan kawasan, mulai dari penumpukan sampah, pembukaan jalur pendakian yang tidak terkendali, pendakian massal, penebangan pohon, hingga perubahan bentang alam.

Pameran juga menampilkan maket tiga dimensi Gunung Bawakaraeng berbasis peta topografi tahun 1924 yang memperlihatkan kondisi kawasan sebelum longsor besar mengubah morfologi gunung.

Dalam dialog publik, pemerhati Gunung Bawakaraeng, Nevy James Tonggiroh menilai kerusakan gunung tidak hanya dipicu aktivitas manusia, tetapi juga akibat tata kelola yang belum memahami karakteristik gunung.

"Salah satu penyebab kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng adalah karena salah urus. Gunung seharusnya diurus dengan ilmu gunung, bukan semata pendekatan kehutanan atau lingkungan," ujarnya.

Nevy juga mempertanyakan belum adanya regulasi khusus yang mengatur perlindungan gunung di Indonesia. Menurutnya, ketiadaan pendekatan berbasis ilmu gunung menyebabkan kebijakan pengelolaan belum mampu menjawab persoalan yang dihadapi kawasan pegunungan.

Pada hari kedua, panitia mengundang BBKSDA Sulawesi Selatan, Pusdal LH SUMA, dan DLHK Sulawesi Selatan sebagai narasumber. Sayangnya, ketiga instansi tersebut tidak hadir, namun forum tetap berlangsung bersama sekitar 80 peserta dari unsur mahasiswa, komunitas, akademisi, dan masyarakat.

Dialog Publik dan Pameran Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng ini diinisiasi Mapalasta UIN Alauddin Makassar bersama Pusat Koordinasi Daerah (PKD) Mapala Tingkat Perguruan Tinggi se-Sulawesi Selatan, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Handayani, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Islam Makassar, WIRPALA Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan, UKM PA Equilibrium FEB Universitas Hasanuddin, MAPALA YPUP Makassar, MAKESPALA STIKES Nani Hasanuddin Makassar, MAPALA Universitas Tamalatea Makassar, MAPALA Veteran UPRI Makassar, MAPALA Unismuh Makassar, serta Yayasan Bumi Toala Indonesia.

 

 

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >