
UPdates - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Minggu, 25 Oktober 2026 waktu setempat, meningkatkan kecamannya terhadap Norwegia dengan menyebutnya sebagai "negara sampah" dan mengatakan imigran Norwegia tidak diterima di Amerika Serikat karena komite Nobel, yang berbasis di ibu kota Oslo, belum menganugerahinya Nobel Perdamaian.
You may also like :
Bak Film Superhero, Pria Melompat Masuk Bus Sekolah dan Selamatkan 18 Anak Setelah Sopir Alami Kejang
Trump menyampaikan komentar tersebut dalam sebuah rapat umum politik di Port Huron, Michigan, menjelang pemilihan paruh waktu minggu depan.
You might be interested :
Trump Ngancam dengan Operasi “Epic Fury”, Iran: Kami tidak Gentar
Menyalahkan kerusuhan baru-baru ini di Prancis pada masalah imigrasi, Trump mengatakan dia akan menyambut imigran dari beberapa negara tetapi tidak dari Norwegia.
"Karena saya tidak mendapatkan Hadiah Nobel ... Jadi saya tidak menginginkan siapa pun dari Norwegia," ketusnya, disadur Keidenesia.TV dari Arabnews.com, Senin, 26 Oktober 2026.
“Norwegia sebenarnya telah menjadi negara yang sangat buruk,” imbuh Trump, menggunakan istilah yang sebelumnya pernah ia gunakan untuk menyebut Haiti, Libya, Somalia, dan Yaman.
Norwegia termasuk di antara negara-negara berpenghasilan tertinggi berdasarkan PDB per kapita, menurut data Dana Moneter Internasional.
Dana kekayaan negara Norwegia mencatatkan keuntungan rekor sebesar 1,75 triliun krona Norwegia (184,3 miliar dolar AS) untuk paruh pertama tahun 2026.
Awal bulan ini, Trump menyebut kegagalan memberinya Hadiah Nobel Perdamaian sebagai "noda yang tak terhapuskan" bagi Norwegia.
Sebelumnya pada Komite Nobel Norwegia mengumumkan Navi Pillay sebagai penerima Nobel Perdamaian 2026 pada Jumat, 9 Oktober 2026. Pillay merupakan tokoh hukum internasional berusia 85 tahun yang berasal dari Afrika Selatan.
Keputusan ini langsung menuai kritik dari Trump. Dalam kampanye Partai Republik di hari yang sama, Trump mengaku tidak mengenal sosok Pillay dan menilai penghargaan itu semestinya diberikan kepada dirinya.
Trump bahkan menyebut penghargaan Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitas karena bukan dirinya yang mendapatkannya tahun ini.