
UPdates—Operasi penyelamatan kapal tanker MT Honour 25 yang disandera bajak laut Somalia berakhir dengan kematian lima awak kapal.
Terdapat 4 warga Negara Indonesia (WNI) di atas kapal tersebut, yaitu Ashari Samadikun (Kapten kapal asal Gowa, Sulawesi Selatan), Wahudinanto (Chief Officer asal Pemalang), Adi Faizal (2nd Officer asal Bulukumba, Sulsel), dan Fiki Mutakin (Asal Bogor).
Berdasarkan pernyataan Kementerian Informasi Puntland, sebuah wilayah semi-otonom di Somalia, tidak ada WNI dalam daftar lima korban.
Menurut pihak berwenang Somalia, perompak telah membunuh lima awak kapal tanker minyak berbendera Palau di lepas pantai Somalia sebelum pasukan keamanan berhasil menyelamatkan kapal tersebut.
Kabar kematian di kapal tanker MT Honour 25 itu diumumkan pada hari Selasa waktu setempat.
Insiden ini tampaknya menjadi kasus kematian pertama akibat ulah perompak Somalia dalam lebih dari satu dekade, dan terjadi di tengah kebangkitan kembali aksi perompakan Somalia yang menurut para ahli sebagian disebabkan oleh dampak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Kapal MT Honour 25, yang menurut pihak berwenang mengangkut 18.500 barel minyak, dibajak oleh perompak di perairan Somalia pada 21 April.
Kementerian Informasi Puntland menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa misi penyelamatan telah berhasil membebaskan kapal tersebut dan menangkap 16 orang yang diduga sebagai perompak.
"Sebelum operasi dimulai, para perompak di atas kapal membunuh lima awak kapal," demikian bunyi pernyataan tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Al Jazeera, Rabu, 30 September 2026.
"Di antara korban tewas terdapat tiga orang dari Pakistan, satu orang dari Myanmar, dan satu orang dari India," lanjut pernyataan itu.
Empat awak kapal lainnya—tiga warga Pakistan dan satu warga India—mengalami luka-luka, jelas pernyataan tersebut.
Dalam sebuah unggahan di X, Kedutaan Besar India di Kenya menyatakan sangat berduka atas tewasnya awak kapal berkebangsaan India tersebut.
"Seluruh pelaut India lainnya di atas kapal dilaporkan selamat, termasuk mereka yang berada di MT Sibu 1 dan MT Eureka, yang juga baru saja diselamatkan," tambah pernyataan itu.
Melalui unggahan di media sosial, Pasukan Polisi Maritim Puntland menyatakan bahwa kapal tersebut dalam keadaan "aman" dan berada di bawah kendali pemerintah.
Mereka menyebutkan bahwa upaya pencarian terhadap pihak lain yang terlibat dalam pembajakan tersebut masih terus dilakukan.
Operasi penyelamatan ini menyusul operasi serupa pekan lalu, di mana polisi maritim membebaskan Sibu 1, sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi oleh AS dan sempat dibajak oleh perompak Somalia pada bulan Agustus.
Namun, 28 dari 41 perompak yang ditangkap dalam operasi tersebut kemudian melarikan diri saat sedang dipindahkan ke penjara, dan sejumlah pejabat keamanan Puntland menuding adanya keterlibatan polisi setempat.
Menurut para pejabat, setidaknya 15 serangan telah dilaporkan terjadi di perairan lepas pantai Somalia sejak bulan April.
Mohamed Mubarak, kepala kantor koordinasi keamanan Puntland, menyatakan melalui unggahan di X bahwa tidak ada kapal yang sedang disekap oleh perompak di perairan lepas pantai Puntland.
Ia menambahkan bahwa satu kapal masih ditahan di perairan wilayah tetangga, negara bagian Galmudug.
Kapal MT Asana, yang dibajak pada bulan Juli, masih berada di dekat pantai di sekitar kota Ceel Huur, ujarnya.
Gelombang pembajakan sebelumnya, yang terjadi antara tahun 2008 hingga 2014, telah mengganggu salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, merugikan ekonomi global hingga miliaran dolar, serta mengakibatkan pembayaran uang tebusan bernilai ratusan juta dolar.