UPdates - Setiap 21 Februari, dunia memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional sebagai bentuk penghormatan terhadap pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan manusia.
Disadur Keidenesia dari laman National Today, Jumat 21 Februari 2025, gerakan ini bermula dari peristiwa bersejarah di Pakistan Timur, yang kini dikenal sebagai Bangladesh, saat rakyatnya memperjuangkan pengakuan bahasa Bangla sebagai bahasa nasional.
Hari Bahasa Ibu Internasional pertama kali diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1999, dan pada 2002, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui peringatan ini secara resmi melalui resolusi PBB 56/262. Peringatan ini tak hanya menjadi simbol pelestarian bahasa, tetapi juga mengenang perjuangan para martir yang gugur dalam aksi protes di tahun 1952.
Perjuangan ini dimulai sejak tahun 1947, ketika Pakistan didirikan dengan dua wilayah yang terpisah secara geografis, Pakistan Timur dan Pakistan Barat, yang memiliki perbedaan budaya dan bahasa.
Pada tahun 1948, Dhirendranath Datta dari Pakistan Timur menuntut agar bahasa Bangla diakui sebagai bahasa nasional bersama bahasa Urdu. Namun, pemerintah Pakistan melarang pertemuan dan unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat untuk memperjuangkan tuntutan tersebut.
Protes besar-besaran pun pecah di Universitas Dhaka, yang kemudian direspons dengan kekerasan oleh aparat keamanan. Polisi menembakkan peluru kepada para demonstran, mengakibatkan banyak korban jiwa. Keberanian para mahasiswa dan masyarakat Bangladesh dalam mempertahankan bahasa ibu mereka akhirnya mengarah pada pengakuan internasional.
Setelah Bangladesh merdeka, usulan untuk menjadikan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional resmi diajukan oleh Pemerintah Bangladesh ke UNESCO.
Peringatan tersebut kini dirayakan dengan penuh hormat di seluruh dunia, termasuk di Bangladesh, dengan warga mengunjungi Shaheed Minar, monumen yang dibangun untuk mengenang para martir yang gugur dalam perjuangan ini.