
UPdates—Iran menanggapi keras pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS.
You may also like :
Ngaku Senang Pangeran Harry dan Meghan Sudah tak Tinggal di AS, Trump: Saya tidak Menyukai Mereka
Iran menegaskan bahwa jalur air vital bagi pasokan energi yang sempat mereka blokade itu akan selamanya menjadi milik Iran.
You might be interested :
AS Bom Pesta Pernikahan di Iran, 4 Tewas dan 50 Terluka
Trump berulang kali bersikeras bahwa selat tersebut—yang secara efektif ditutup oleh Teheran pada awal perang Timur Tengah di akhir Februari—berada di bawah kendali AS, meskipun lalu lintas pelayaran tetap sangat terbatas.
"Selat Hormuz adalah milik Iran, saat ini milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi di X sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari TRT World, Minggu, 16 Agustus 2026.
Ia juga menegaskan kontrol selat itu ada di tangan mereka. "Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka atas perintah Iran," tegasnya.
Dalam sebuah rapat umum politik di negara bagian New York pada hari Jumat, Trump mengatakan bahwa setelah AS mengalahkan Iran, ia akan mengumumkan status Selat Hormuz sebagai milik AS.
"Tak lama lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," ujarnya.
Seperti dilaporkan Wall Street Journal, seorang pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya kemudian mengklarifikasi bahwa Trump hanya bercanda.
Pekan lalu, pejabat senior Iran Mohammad Bagher Zolghadr menuntut diakhirinya perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, serta pencabutan sanksi dan pembayaran kompensasi perang, sebagai syarat untuk membuka kembali selat tersebut.
Gangguan pasokan energi
Di tengah macetnya diplomasi, serangan di selat tersebut terus terjadi, menyoroti risiko yang terus mengancam pelayaran di kawasan itu.
Perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab (UEA), ADNOC, menyatakan pada hari Sabtu bahwa salah satu kapalnya diserang pada malam sebelumnya.
Abu Dhabi kemudian menyalahkan Teheran, dengan menyatakan bahwa Garda Revolusi Iran terlibat dalam tindakan pembajakan.
Pada hari Jumat, UEA menuduh Iran melakukan serangan terpisah terhadap dua kapal yang terkait dengan ADNOC.
Insiden-insiden semacam itu menyebabkan gagalnya kesepakatan gencatan senjata bulan April antara Washington dan Teheran.
Sebuah kerangka kerja bulan Juni menyatakan bahwa Iran dan Oman akan membahas pengaturan masa depan untuk selat tersebut sesuai dengan hukum internasional.
Sebelum perang, jalur perairan ini mengangkut sekitar seperlima dari ekspor minyak dan LNG global.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan pekan ini bahwa prioritas utama Washington tetap menjaga harga energi domestik agar tetap rendah.