The K Facts - Ia lahir pada tahun 1939 dari sebuah rumah sederhana di Kota Mashhad, Iran, wilayah yang lebih akrab dengan doa daripada kemewahan.
You may also like :
Netanyahu akan Temui Trump, Minta Batasi Rudal Iran saat Negosiasi Berlanjut
Di balik ruang sunyi pendidikan agama, ia belajar bahwa iman bukan sekadar lisan dan keyakinan, melainkan keberanian untuk berdiri, ketika dunia memintanya tunduk.
You might be interested :
Iran Ubah Taktik, Beralih ke Senjata Baru yang Sebabkan Kerusakan Besar di Tel Aviv
Ketika menempuh pendidikan di Qom, bimbingan Ayatollah Ruhollah Khomeini membawa keyakinannya menemukan arah. Perlawanan adalah bagian dari takdir.
Pada awal 1960-an, sikapnya yang menentang rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi dilaluinya dengan suara lantang dengan berdiri di garis oposisi.
Dipenjara berkali-kali, hingga merasakan kerasnya hidup dalam pengasingan tak membuatnya bungkam.
Ia malah menjelma menjadi gema yang membahana.
Dan, saat kemenangan Revolusi Islam datang di tahun 1979, sosok kharismatik Khamenei terpancar nyata.
Berbagai jabatan diembannya, mulai dari menjadi anggota Dewan Revolusi, Wakil Menteri Pertahanan, Imam Shalat Jumat di Teheran, hingga terpilih sebagai Presiden Iran ke-3 dalam Pemilihan Umum Oktober 1981.
Tidak berhenti di situ, sejarah lantas memanggil namanya pada Juni 1989, untuk duduk sebagai Sang Pemimpin Tertinggi, Rahbar Kedua Republik Islam Iran pasca wafatnya Ayatollah Khomeini.
Sejak itu, sikapnya terhadap Amerika Serikat tak pernah abu-abu.
Baginya, kedaulatan bukan diplomasi basa-basi melainkan harga diri yang tak bisa ditawar.
Di tangannya, Islamic Revolutionary Guard Corps menjadi benteng tangguh penjaga republik.
Puluhan tahun dikritik, disanksi, dan diancam, namun ia tetap berdiri sebagai penentang.
Namanya menjadi bisik yang keras, Iran tidak akan pernah berlutut.
Dan, pada akhirnya waktunya pun tiba.
Di penghujung Februari 2026, dentuman serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, merenggut raganya di Teheran.
Tubuhnya runtuh, tetapi sikapnya tak ikut gugur.
Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei kini telah tiada, namun di dada bangsanya, dan di peta panjang pertarungan Timur Tengah, namanya akan tetap berdenyut.
Dunia akan terus mengenangnya sebagai Sang Rahbar, pemimpin yang memilih berdiri tegak di tengah badai sejarah yang tak pernah bertiup lembut ke arahnya.