
UPdates—Pasukan Ukraina meluncurkan lebih 1.000 drone ke arah Rusia dalam semalam, termasuk ratusan yang ditujukan ke Moskow, kata para pejabat pada hari Minggu, saat Kremlin sedang mengakhiri hari ketiga sekaligus hari terakhir pemilihan umum parlemennya.
You may also like :
Negosiator Teheran: Tidak Ada Pembicaraan dengan AS Sampai Syarat Iran Dipenuhi
Wali Kota Moskow menyebut gelombang serangan drone tersebut sebagai serangan terbesar yang pernah terjadi terhadap ibu kota Rusia dan mengatakan bahwa serangan itu menyebabkan kerusakan pada kilang minyak serta sebuah bangunan tempat tinggal di Moskow.
You might be interested :
Serangan Drone Rusia Nyaris Mengenai Boris Johnson, Mantan PM Swedia Carl Bildt, dan Eks Kepala CIA David Petraeus
Di wilayah Moskow yang lebih luas, serangan tersebut menewaskan dua orang dan melukai 20 orang lainnya, kata Gubernur setempat, Andrei Vorobyov.
Korban tewas adalah seorang pria berusia 74 tahun dan seorang wanita berusia 44 tahun, ujarnya.
Melalui unggahan di media sosial, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa Kyiv menggunakan berbagai jenis rudal dan drone dalam serangan tersebut—termasuk rudal Flamingo dan Pelican buatan dalam negeri Ukraina—untuk menghantam fasilitas minyak dan logistik.
"Ini adalah miliaran dolar yang menopang mesin perang," kata Zelenskyy, merujuk pada tekanan finansial yang diharapkan Kyiv dapat diberikan terhadap perekonomian Rusia sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari NPR, Minggu, 20 September 2026.
Pemungutan suara yang sedang berlangsung di Rusia ini merupakan pemilihan umum parlemen pertama negara itu di masa perang—sebuah proses pemungutan suara yang hampir tidak memiliki oposisi terhadap kebijakan Presiden Vladimir Putin dan hampir pasti akan memperkokoh dominasi Kremlin.
Rusia juga menggelar pemungutan suara di empat wilayah Ukraina yang dianeksasi secara ilegal oleh Moskow setelah perang dimulai—meskipun wilayah-wilayah tersebut belum sepenuhnya dikuasai—serta di Krimea, semenanjung di Laut Hitam yang dianeksasi secara ilegal oleh Rusia pada tahun 2014. Kyiv mengecam tindakan tersebut sebagai tindakan ilegal.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa pasukannya telah menembak jatuh 1.100 pesawat nirawak (drone) Ukraina di seluruh negeri, serta di atas semenanjung Krimea yang dianeksasi dan perairan Laut Hitam.
Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, mengatakan bahwa 450 drone telah dihancurkan saat sedang menuju ibu kota Rusia, dan serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada Kilang Minyak Moskow serta sebuah bangunan tempat tinggal.
Ia menyebut bahwa skala serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Moskow itu sebagai upaya untuk mengganggu jalannya pemilihan umum. "Musuh gagal dalam hal ini," ujarnya.
Sejak invasi Rusia lebih dari empat tahun lalu, Ukraina telah menjadi pemimpin global dalam teknologi drone militer, dengan mengerahkan drone jarak jauh buatan dalam negeri serta rudal untuk melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia.
Teknologi drone mereka telah memukau berbagai pemerintah dan produsen pertahanan di seluruh dunia.
Kyiv berupaya membuat masyarakat Rusia merasakan dampak perang dan menekan Presiden Rusia Vladimir Putin agar bersedia merundingkan kesepakatan damai. Namun, sejauh ini, Putin belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan invasi tersebut.
Sebaliknya, Moskow dan Kyiv justru terjebak dalam eskalasi saling serang menggunakan serangan udara jarak jauh, sementara pertempuran di sepanjang garis depan yang membentang sekitar 1.250 kilometer di Ukraina timur dan selatan melambat akibat banyaknya drone dan robot darat yang mengancam pergerakan pasukan.