
UPdates—Kelompok Houthi Yaman terus melancarkan serangkaian serangan terhadap bandara-bandara di Arab Saudi. Dalam dua hari serangan mereka menewaskan sedikitnya 14 orang dan lebih 300 orang lainnya terluka.
You may also like :
Serangan Mematikan di Bandara Riyadh, 12 Tewas dan 309 Terluka
Serangan-serangan ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah. Para pakar regional memperingatkan adanya eskalasi lintas domain di tengah ketegangan yang meningkat akibat langkah Washington pada bulan September yang menargetkan sektor penerbangan Iran.
You might be interested :
Kesal Dikecam Zelensky Soal Kesepakatan Diesel dengan Rusia, Trump: Saatnya Ukraina punya Presiden Baru
Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan sebelumnya terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, sementara pejabat AS menyalahkan kelompok yang didukung Iran tersebut atas serangan hari Sabtu yang dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan bahwa serangan lain pada hari Minggu waktu setempat menewaskan seorang warga Pakistan dan melukai 11 orang lainnya.
Sementara itu, sebuah bandara di Dammam, yang terletak di Provinsi Timur kerajaan tersebut, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan Houthi.
"Eskalasi lintas domain oleh Iran dan kelompok-kelompok proksinya akan terus menjadi strategi utama," ujar Behnam Ben Taleblu, direktur senior Program Iran sekaligus peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies, kepada Fox News Digital pada hari Minggu sebagaimana dilansir Keidenesia.tv, Senin, 12 Oktober 2026.
"Penekanan pada target-target penerbangan berkaitan langsung dengan pembatasan sektor penerbangan Iran serta sanksi yang dijatuhkan terhadap maskapai penerbangan komersialnya di bawah kampanye 'tekanan maksimum' AS," lanjutnya memperingatkan.
Kelompok Houthi juga kembali mengeluarkan peringatan pada hari Minggu, mendesak maskapai penerbangan, pekerja bandara, dan para pelancong untuk menghindari bandara-bandara Saudi.
Arab Saudi sementara itu berjanji akan membalas serangan mematikan tersebut.
Eskalasi ini terjadi hampir tiga minggu setelah seorang pejabat senior Iran mengancam akan melumpuhkan bandara-bandara di negara tetangga jika mereka bekerja sama dengan upaya AS untuk membatasi penerbangan Iran.
Menurut Reuters, Mohsen Rezaei—sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran—memperingatkan pada 23 September bahwa Iran akan menghentikan operasional bandara negara-negara tetangga jika mereka bekerja sama dengan upaya Washington untuk membatasi penerbangan Iran.
"Serangan yang terjadi dengan cepat ini mencerminkan ancaman sebelumnya yang dilontarkan oleh para pejabat Iran, termasuk ancaman terselubung dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang memperingatkan bahwa sanksi AS terhadap sektor penerbangan Iran akan memicu ancaman balasan yang menyasar infrastruktur penerbangan negara tetangga," ujar Taleblu.
Iran telah lama mendukung kelompok Houthi, namun sejauh mana keterlibatan Teheran dalam serangan bandara terbaru ini belum dapat dipastikan secara independen.
Eskalasi ini juga kembali memicu sorotan terhadap laporan bahwa Rusia telah memberikan bantuan intelijen dan teknis kepada kelompok Houthi.
Dalam sidang subkomite Urusan Luar Negeri DPR AS pada 1 September, para anggota parlemen mendesak para ahli untuk memberikan keterangan mengenai dugaan bahwa Rusia memberikan dukungan intelijen dan teknis kepada Houthi.