
UPdates—Departemen Luar Negeri AS pada hari Jumat mengumumkan hadiah hingga $10 juta atau sekitar Rp169 miliar untuk informasi yang mengarah pada identifikasi atau lokasi para pemimpin kunci Iran. Termasuk Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
You may also like :
Israel Hapus Kamera CCTV, Ini Penjelasan Mantan Analis Intelijen AS
Menurut laporan Anadolu yang dilansir Keidenesia.tv dari MEMO, Sabtu, 14 Maret 2026, pengumuman tersebut, yang dirilis oleh program Rewards for Justice departemen mengatakan bahwa individu yang ditargetkan memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC, yang dituduh Washington merencanakan dan melakukan serangan di seluruh dunia.
You might be interested :
Iran Sebut 11.000 Teroris ISIS Dilatih di Kamp-kamp Amerika untuk Serbu Irak
Di antara mereka yang tercantum dalam pemberitahuan tersebut adalah Mojtaba Khamenei, Ali Asghar Hejazi, wakil kepala staf di kantor pemimpin tertinggi; dan Yahya Rahim Safavi, penasihat militer senior untuk pemimpin tertinggi.
Sebelumnya pada hari itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru diangkat "terluka" dan "kemungkinan cacat" karena AS dan Israel terus menyerang negara tersebut.
Ketegangan di seluruh Timur Tengah telah meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tempat aset militer AS, mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sipil serta memengaruhi pasar global dan penerbangan.
Perang Iran vs AS-Israel sudah memasuki hari ke-14 dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Presiden AS, Donald Trump memberi informasi membingungkan soal akhir perang saat Iran secara konsisten melakukan serangan ke wilayah Israel dan aset AS di Timur Tengah.
Iran sejak awal menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerah Sebaliknya, mereka menyatakan Iran-lah yang akan menentukan kapan perang ini akan mereka akhiri.