
UPdates - Hujan salju lebat di Jepang dilaporkan telah menyebabkan 30 kematian dalam dua minggu terakhir, termasuk seorang wanita berusia 91 tahun yang ditemukan terkubur di bawah salju setinggi 3 meter di luar rumahnya.
You may also like :
Peringatan Dini BMKG: Sulsel Potensi Hujan Lebat-Angin Kencang 3-5 April
Televisi nasional Jepang NHK memberitakan bahwa hujan salju lebat mendorong Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi untuk memerintahkan pengerahan pasukan pada hari Selasa, 3 Februari 2026 untuk membantu di daerah yang terkena dampak.
You might be interested :
Trump Minta Jepang tidak Provokasi China Terkait Taiwan
Pihak berwenang juga meminta masyarakat untuk waspada terhadap longsoran salju dan tumpukan salju yang jatuh dari atap rumah, dan juga memperingatkan bahwa pemadaman listrik mungkin terjadi di daerah yang paling parah terkena dampaknya.
Hingga Selasa hari ini, kota Aomori di utara telah memiliki akumulasi salju setinggi 175 cm di tanah, lebih dari dua kali lipat rata-rata untuk waktu yang sama setiap tahunnya.
Pada hari Senin kemarin, kota tersebut mencatat akumulasi salju setinggi 183 cm di beberapa daerah, memecahkan rekor 40 tahun sebesar 181 cm yang tercatat pada tahun 1986.
Gubernur Aomori, Soichiro Miyashita mengatakan pada hari Senin bahwa ia telah meminta militer untuk memberikan bantuan bencana, terutama kepada para lansia, yang banyak di antaranya tinggal sendirian dan membutuhkan bantuan untuk membersihkan salju.
“Bahaya insiden yang mengancam jiwa, seperti kecelakaan fatal akibat salju yang jatuh dari atap atau bangunan yang runtuh, sudah dekat,” katanya dalam konferensi pers.
Menurut Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana, dari tanggal 20 Januari lalu hingga hari Selasa 3 Februari 2026, 30 orang telah meninggal akibat hujan salju lebat.
Selain itu, menurut NHK, total 290 orang mengalami cedera, beberapa di antaranya serius, akibat insiden yang berkaitan dengan salju.
Badan meteorologi mengatakan beberapa wilayah di negara itu mengalami curah salju lebih dari dua kali lipat dari biasanya, karena, menurut kantor berita Kyodo, massa udara dingin dari Arktik masih bertahan di atas kepulauan Jepang.
