Asap membubung dari Menara Kembar di atas Manhattan, New York, pada 11 September 2001. (Foto: AP)

69 Dokumen Baru Dibuka, CIA Peringatkan Ancaman Serangan Pesawat Berisi Bahan Peledak 3 Tahun Sebelum 9/11

12 September 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates—Dokumen yang baru dibuka untuk umum mengungkap adanya peringatan berulang CIA kepada Presiden Bill Clinton dan George W. Bush mengenai serangan yang akan terjadi di AS.

You may also like : 9 11 apDipaksa dan Disiksa CIA, Hakim AS Tolak Pengakuan Tersangka Otak Serangan 9/11, Khalid Sheikh Mohammed

Dokumen itu menunjukkan bahwa tiga tahun sebelum peristiwa 9/11, pejabat intelijen AS membahas kemungkinan al-Qaeda mungkin menerbangkan pesawat bermuatan bahan peledak ke kota di AS.

Pada hari Jumat—bertepatan dengan peringatan 25 tahun peristiwa pesawat yang dibajak dan ditabrakkan ke World Trade Center, Pentagon, dan sebuah lapangan di Pennsylvania—CIA merilis 71 laporan intelijen harian untuk presiden yang mencakup periode dari awal tahun 1998 hingga sehari setelah serangan tersebut.

Dokumen lain, tertanggal 12 September 2001, menyebutkan bahwa rencana serangan itu diketahui secara luas di kalangan ekstremis.

Laporan Harian Presiden (President's Daily Briefs) merupakan salah satu analisis intelijen paling rahasia dalam pemerintah AS, dan biasanya tetap berstatus rahasia selama 40 atau 50 tahun setelah diterbitkan.

"Dua puluh lima tahun yang lalu, serangan 9/11 menghantam bangsa kita, namun tidak menghancurkan kita," kata Direktur CIA John Ratcliffe dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari BBC, Sabtu, 12 September 2026.

"Sejak saat itu, berbagai generasi petugas CIA telah mendedikasikan karier mereka untuk menegakkan keadilan bagi warga Amerika yang gugur dan memastikan Al-Qaeda tidak akan pernah lagi membahayakan negara kita," tambahnya.

Dari 71 dokumen yang diterbitkan oleh CIA, 69 di antaranya belum pernah dilihat oleh publik.

Laporan-laporan tersebut—yang banyak di antaranya masih memuat banyak bagian yang disensor—dibuat pada masa pemerintahan Clinton maupun Bush.

Dokumen-dokumen itu menunjukkan kekhawatiran yang meningkat terhadap jaringan al-Qaeda dan pemimpinnya, Osama bin Laden.

Isinya juga sejalan dengan penilaian komisi resmi yang meninjau peristiwa hari itu, yang menyatakan bahwa intelijen AS berulang kali memperingatkan adanya potensi serangan, namun hanya memiliki sedikit rincian atau gambaran mengenai skala serangan yang akan terjadi.

Salah satu dokumen laporan, tertanggal 10 September 1998, melaporkan bahwa lokasi yang dipilih Bin Laden untuk serangan adalah di dalam wilayah AS, dengan Washington sebagai target utama.

Kelompok tersebut, tulis seorang analis CIA, mungkin menerbangkan pesawat yang sarat bahan peledak ke kota di AS.

Meskipun laporan Komisi 9/11 tahun 2004 mencatat bahwa intelijen AS meyakini al-Qaeda sedang mempertimbangkan penggunaan pesawat dalam serangan tersebut, tidak pernah ada kejelasan apakah peringatan itu sampai ke tangan Presiden Bill Clinton saat itu.

Bin Laden dan al-Qaeda sudah dikenal luas oleh komunitas intelijen AS pada tahun 1998.

Pada bulan Agustus tahun itu, mereka menyerang kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania, menewaskan 224 orang dan mendorong AS untuk melancarkan serangan rudal jelajah terhadap target-target di Afghanistan dan Sudan.

Sebuah dokumen yang ditulis pada 28 Agustus 1998—21 hari setelah serangan kedutaan dan delapan hari setelah serangan balasan AS—memperingatkan bahwa jaringan tersebut masih utuh dan Bin Laden secara aktif mempertimbangkan serangan di AS.

Hanya satu dari dokumen pengarahan presiden yang dirilis tersebut berasal dari masa setelah serangan terjadi. Dokumen itu dikirim ke Gedung Putih pada pukul 04.00 tanggal 12 September, kurang dari 20 jam setelah pesawat pertama menghantam World Trade Center di New York.

Laporan tersebut mencatat adanya bukti yang semakin kuat yang mengindikasikan bahwa kelompok ekstremis di Afghanistan dan Teluk Persia mengetahui bahwa serangan itu akan segera terjadi.

Kalimat lain yang sebagian isinya disensor menyebutkan bahwa rencana serangan itu diketahui secara luas di kalangan ekstremis dan bahwa Bin Laden mungkin telah pindah ke Kabul, Afghanistan, untuk menghindari konflik dengan penguasa Taliban di negara itu, yang sebelumnya sempat berselisih dengannya terkait rencana tersebut.

Pemimpin Taliban saat itu, Mullah Omar, dilaporkan telah dievakuasi bersama keluarganya dari kota Kandahar di Afghanistan selatan segera setelah serangan terjadi.

Kurang dari sebulan kemudian, AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan dengan tujuan menghancurkan al-Qaeda.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >