
UPdates—Jumlah korban tewas akibat protes massal di Iran meningkat menjadi 2.550, termasuk 2.403 demonstran dan 147 personel keamanan dan pendukung pemerintah.
You may also like :
Ada China di Balik Sukses Pakistan Tembak Jatuh Jet-jet Tempur India
Angka itu diungkap Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS pada hari Selasa waktu setempat sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Rabu, 14 Januari 2026.
You might be interested :
Trump Paksa Hamas Bebaskan Semua Sandera di Sabtu Siang atau Biarkan Kekacauan Terjadi
Pada hari ke-17 aksi demo nasional di Iran, 614 pertemuan protes telah tercatat di 187 kota, meliputi seluruh 31 provinsi di negara itu, menurut data yang dikumpulkan oleh HRANA.
HRANA melaporkan total 18.434 penangkapan, 1.134 kasus cedera berat, dan 97 kasus pengakuan paksa yang disiarkan secara langsung.
Namun, belum ada angka resmi yang komprehensif mengenai korban jiwa selama protes ini.
Laporan Netblocks pada hari Rabu, pemadaman komunikasi di Iran masih berlangsung dan sudah 132 jam negara itu tanpa internet.
Iran diguncang gelombang protes sejak bulan lalu, dimulai pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, terkait depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi kemudian menyebar ke beberapa kota lain.
Para pejabat Iran menuduh AS dan Israel mendukung apa yang mereka sebut sebagai "perusuh bersenjata," yang telah melakukan beberapa serangan di tempat umum di seluruh negeri.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa AS siap untuk mengambil tindakan yang sangat keras jika laporan bahwa Iran berencana untuk mengeksekusi para pengunjuk rasa terbukti akurat.
Komentar Trump muncul setelah ia ditanya tentang pernyataan yang sebelumnya ia unggah di media sosialnya, Truth Social.
“Bantuan sedang dalam perjalanan.Ya, ada banyak bantuan yang sedang dalam perjalanan, dan dalam berbagai bentuk, termasuk bantuan ekonomi... Kami telah melumpuhkan Iran dengan kemampuan nuklirnya,” katanya, merujuk pada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Sementara itu, China pada hari Rabu menegaskan kembali dukungannya untuk Iran dan mengatakan bahwa mereka berharap pemerintah Iran dan rakyatnya akan mengatasi kesulitan saat ini dan menjaga stabilitas di negara tersebut.
“Pada saat yang sama, kami menentang campur tangan eksternal dalam urusan internal negara dan tidak menyetujui penggunaan, atau ancaman penggunaan, kekerasan dalam urusan internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning kepada wartawan di Beijing.
China berharap kondisi Iran segera membaik. “Kami berharap semua pihak dapat melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah,” ujar Mao.