Ilustrasi shalat. (foto:Pexels/Bornil Prattoy)

Tetap Istiqamah setelah Ramadan

20 March 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Ramadan berlalu, tetapi yang lebih penting adalah tetap istiqamah melakukan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan di bulan Ramadan.
  • Istiqamah dalam ketakwaan adalah konsisten melakukan perbuatan baik meskipun sedikit, seperti dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW.
  • Syekh Muhammad as-Syinqithi menjelaskan bahwa konsistensi dalam perbuatan baik memiliki manfaat seperti terjaganya hubungan dengan Allah dan tidak berpaling.
  • Konsistensi dalam perbuatan baik tidak melulu melihat kuantitas, melainkan totalitas dan konsistensi pelaksanaannya.
  • Bulan Ramadan dapat menjadi momen untuk memulai kebiasaan baik, sehingga ketika bulan itu berlalu, kebiasaan tersebut tetap dilakukan.
  • Istiqamah dalam ketakwaan dapat membantu seseorang terus melangkah meski sedikit, sehingga lebih berharga daripada ledakan amal yang sesaat.
atau

UPdates - Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung Ramadan. Ibarat seorang kekasih yang paling dicintai, Ramadan datang membawa kebahagiaan dan pergi menyisakan kerinduan.

You may also like : close up hands holding broken ringApakah Sah, Suami Jatuhkan Talak Saat Emosi?

Kedalaman cinta para sahabat dan generasi salaf terhadap bulan ini membuat mereka sulit melepaskan kepergiannya tanpa linangan air mata dan harapan untuk berjumpa lagi.  Kesyahduan momentum perpisahan ini dirangkum dengan begitu indah oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali:

You might be interested : pexels bornil prattoy 1967044649 32788601Tujuh Tingkatan Shalat Menurut Imam Al-Ghazali

‏كَيْفَ لَا تَجْرِيْ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِ رَمَضَان دُمُوْعٌ؟ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ هَلْ بَقِيَ لَهُ في عُمرِهِ إليه رُجُوعٌ

Artinya: “Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadan, sementara ia tak tahu pasti, apakah di sisa umurnya masih bisa berjumpa dengannya.” (Lathaiful Ma’arif, [Beirut, Dar Ibnu Hazm: 1424 H], halaman 217).

Ramadan Berlalu, Istiqamah Beramal

Akan tetapi, yang lebih penting dari pada itu semua adalah jangan sampai ungkapan kesedihan dan tangisan kita dengan perginya bulan Ramadan adalah hanya kepura-puraan saja atau sekedar ikut-ikutan saja.

Kita buktikan perpisahan dengan bulan Ramadan dengan tetap istiqamah melakukan ibadah-ibadah yang sudah sering dilakukan di bulan Ramadan atau minimal tidak kita tinggalkan secara total.  Inilah yang disebut dengan konsisten atau istiqamah dalam ketakwaan. Hal ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad SAW:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya, “Perbuatan baik yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling konsisten (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR Muslim).

Syekh Muhammad as-Syinqithi memberikan penjelasan terkait hadits tersebut sebagai berikut:

   أَيْ أَنَّ أَحَبَّ أَعْمَالِ الطَّاعَاتِ الَّتِي هِيَ نَوَافِلُ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ فَاعِلُهُ وَإِنْ كَانَ شَيْئًا قَلِيلًا؛ لِأَنَّ فِي الْمُدَاوَمَةِ فَوَائِدَ، مِنْهَا دَوَامُ الِاتِّصَالِ بِطَاعَةِ الرَّبِّ، وَطَرْقُ بَابِ الْخَيْرِ، وَعَدَمُ الْإِعْرَاضِ، بِخِلَافِ الْمُنْقَطِعِ مِنَ الْعَمَلِ فَإِنَّ صَاحِبَهُ كَأَنَّهُ أَعْرَضَ بَعْدَ انْتِهَائِهِ

Artinya: "Artinya, amal ketaatan tambahan (sunnah) yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah yang dilakukan secara konsisten (istiqomah) oleh pelakunya, meskipun jumlahnya sedikit. Sebab, dalam konsistensi terdapat berbagai manfaat, di antaranya: terjaganya hubungan terus-menerus dalam ketaatan kepada Tuhan, senantiasa mengetuk pintu kebaikan, dan tidak berpaling. Hal ini berbeda dengan amal yang terputus, karena pelakunya seolah-olah berpaling (dari Allah) setelah ia berhenti beramal." (Syarah Sunan Nasa’i, [Mathabi’ Al-Hamidi: 1425 H], jilid V, halaman 1587).

Karena itu, jika selepas Ramadan nanti kita 'hanya' mampu menjaga lisan dari ucapan buruk, hal itu bukanlah sebuah kegagalan. Sebaliknya, itu adalah pencapaian yang dicintai Allah selama dilakukan secara istiqamah.

Begitu pula dengan amal ibadah lainnya; Allah tidak melulu melihat seberapa besar kuantitas, melainkan seberapa dalam totalitas dan konsistensi pelaksanaannya.

Sebab, di mata Sang Pencipta, keteguhan untuk terus melangkah meski sedikit jauh lebih berharga daripada ledakan amal yang sesaat.

Akhirnya, bulan Ramadan dapat menjadi momen paling tepat untuk memulai kebiasaan baik (ketakwaan), sehingga ketika bulan itu berlalu, kebiasaan tersebut tetap dilakukan, bahkan bisa terus sepanjang hayat karena sudah mendarah daging. Wallahu a’lam.

*Penulis: Ustadz M Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah. (tulisan ini dilansir Keidenesia.TV dari laman NU Online)

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

mustofa bisri

Achmad Mustofa Bisri

"Kerendahanmu tidak akan terangkat dengan merendahkan orang lain."
Load More >