
UPdates - Ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menyerang pembangkit listrik Iran jika dalam tenggat waktu 48 jam tidak membuka penuh Selat Hormuz, ditanggapi balik oleh Iran dengan ancaman yang lebih keras.
You may also like :
Mulai Pusing, Trump Coba Seret 7 Negara dalam Perang, Minta Kirim Kapal Perang Bantu di Selat Hormuz
Melalui juru bicara militernya, Ebrahim Zolfaqari, Teheran menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan serangan menyasar fasilitas energi, teknologi informasi, hingga instalasi desalinasi air milik AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
You might be interested :
Trump Yakin Ada yang Bantu Pembunuh Presiden JFK
"Semua infrastruktur energi dan fasilitas air akan menjadi target," ujarnya, sebagaimana disadur dari media pemerintah Iran.
Jika ancaman ini benar-benar terjadi, maka berpotensi memicu krisis kemanusiaan besar-besaran di kawasan Timur Tengah.
Kawasan Teluk selama ini sangat bergantung pada listrik untuk menopang kehidupan sehari-hari, terutama dalam memproduksi air bersih melalui teknologi desalinasi.
Negara seperti Bahrain dan Qatar bahkan mengandalkan 100 persen air minumnya dari proses tersebut. Sementara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memenuhi sebagian besar kebutuhan airnya melalui fasilitas serupa.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan memperingatkan bahwa fasilitas energi di Timur Tengah bisa "hancur secara permanen" jika konflik terus meningkat.