Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Devi/Karisma/DPR I)

Astaga! UTBK 2026 Diwarnai Ribuan Kecurangan, Puan Kecewa dan Singgung Etika Pendidikan

24 April 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti maraknya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026, yang menjadi tantangan serius bagi integritas kompetisi pendidikan nasional.
  • Sebanyak 2.640 peserta terindikasi melakukan kecurangan, dengan beragam modus pelanggaran seperti penggunaan joki dengan identitas palsu, pemalsuan dokumen, dan alat komunikasi tersembunyi.
  • Puan menilai kecurangan ini bukan sekadar pelanggaran individu, melainkan pola berulang dengan teknik yang semakin kompleks, yang mencerminkan meningkatnya tekanan dalam kompetisi pendidikan.
  • Puan menekankan pentingnya menjaga prinsip meritokrasi dalam seleksi, karena setiap bentuk kecurangan merusak kepercayaan terhadap mekanisme seleksi berbasis kemampuan dan usaha yang adil.
  • Puan mendorong pemerintah dan panitia pelaksana untuk melakukan adaptasi sistem dan teknologi pengawasan, seiring berkembangnya modus kecurangan, serta membangun budaya kejujuran sejak dini dalam ekosistem pendidikan.
  • Keberhasilan sistem seleksi tidak hanya diukur dari jumlah pelanggaran yang terungkap, tetapi dari kemampuan negara mempersempit ruang kecurangan dan memastikan integritas dijaga melalui pembaruan sistem yang adaptif dan berbasis mitigasi.
  • Puan juga menyoroti bahwa penanganan kecurangan harus dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari aspek teknis pengawasan, tetapi juga terkait bagaimana sistem pendidikan membentuk nilai kejujuran, usaha, dan makna kompetisi.
atau

UPdates—Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti maraknya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026.

You may also like : puan maharani dprPuan Minta Tindak Tegas Oknum "Nakal" di Penerimaan Siswa Baru

Politikus PDIP itu menilai kondisi ini menjadi tantangan serius bagi integritas kompetisi pendidikan nasional.

You might be interested : judha nugraha rriSebelum Ditangkap, Selebgram Indonesia Ternyata Unggah Foto Bareng Kelompok Bersenjata di Myanmar, Didakwa UU Anti-Terorisme

“Berbagai temuan kecurangan yang masih terjadi di UTBK 2026 menjadi tantangan integritas dalam kompetisi pendidikan nasional,” ujar Puan dalam keterangan di Jakarta, Jumat, 24 April 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website DPR RI.

Pada UTBK yang dimulai sejak 21 April 2026, panitia menemukan beragam modus pelanggaran yang dilakukan peserta ujian.

Mulai dari penggunaan joki dengan identitas palsu, pemalsuan dokumen, alat komunikasi tersembunyi, hingga taktik manipulatif untuk mengelabui pengawas.

Sebanyak 2.640 peserta terindikasi melakukan kecurangan. Panitia juga mengendus adanya sindikat joki yang kini terancam sanksi pidana.

Puan menilai kecurangan ini bukan sekadar pelanggaran individu, melainkan pola berulang dengan teknik yang semakin kompleks.

Cucu Bung Karno itu menegaskan bahwa hal tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan dalam kompetisi pendidikan.

“Ketika ruang seleksi dimasuki strategi manipulatif yang disiapkan secara sistematis, persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran ujian, tetapi menyangkut fondasi etika pendidikan,” tegasnya kecewa.

Dengan jumlah peserta mencapai 871.496 orang yang memperebutkan sekitar 260.000 kursi di perguruan tinggi negeri, Puan menekankan pentingnya menjaga prinsip meritokrasi dalam seleksi.

“Setiap bentuk kecurangan merusak kepercayaan terhadap mekanisme seleksi berbasis kemampuan dan usaha yang adil,” kata Mantan Menko PMK ini.

Ia mendorong pemerintah dan panitia pelaksana untuk melakukan adaptasi sistem dan teknologi pengawasan, seiring berkembangnya modus kecurangan.

“Setiap celah harus menjadi bahan koreksi sistematis dalam desain seleksi berikutnya,” imbuhnya.

Puan menegaskan, keberhasilan sistem seleksi tidak hanya diukur dari jumlah pelanggaran yang terungkap, tetapi dari kemampuan negara mempersempit ruang kecurangan.

“Negara harus memastikan integritas dijaga melalui pembaruan sistem yang adaptif dan berbasis mitigasi,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa fenomena ini juga mencerminkan tekanan sosial terhadap hasil pendidikan.

Makanya, penanganan kecurangan harus dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari aspek teknis pengawasan.

“Persoalan ini juga terkait bagaimana sistem pendidikan membentuk nilai kejujuran, usaha, dan makna kompetisi,” jelas Puan.

Menutup pernyataannya, Puan menekankan pentingnya membangun budaya kejujuran sejak dini dalam ekosistem pendidikan.

“Kejujuran akademik tidak bisa dibentuk hanya di ruang ujian, tetapi harus menjadi bagian dari proses pendidikan sejak awal,” pungkasnya.

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

russell

Bertrand Russell

"Perang tidak menentukan siapa yang benar, hanya siapa yang tersisa"
Load More >