
UPdates—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena atmosfer global yang disebabkan oleh memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur.
You may also like :
Gempa 7,4 Skala Richter Guncang Vanuatu, Picu Tsunami di Sejumlah Negara
Jadi tidak benar jika ada informasi yang menyebut fenomena El Nino terjadi di wilayah Indonesia.
You might be interested :
Waspada Cuaca Ekstrem di Sulsel 5-7 April, Potensi Banjir-Longsor
Hal itu ditegaskan Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari.
"El Nino bukan fenomena yang merambat atau bergerak menuju Indonesia, El Nino adalah fenomena penyimpangan perilaku Samudra Pasifik. Jadi El Nino terjadinya di Samudera Pasifik, oleh karena itu, tidak tepat mengatakan dengan kalimat bahwa El Nino terjadi di Indonesia," ujar Supari dalam keterangan tertulis sebagaimana dilansir Keidenesia.tv Minggu, 21 Juni 2026.
Meskipun pusat El Nino jauh, namun Indonesia terkena dampaknya. Supari mengatakan dampak dari El Nino, mengakibatkan musim kemarau di Indonesia menjadi kering dan lebih lama.
Berdasarkan pembaruan yang dirilis pada tanggal 12 Juni 2026, prediksi BMKG menunjukkan bahwa El Nino 2026 dapat mencapai intensitas moderate dengan peluang 100 persen.
"Kemudian mencapai intensitas kuat dengan peluang 86 persen, El Nino menyebabkan kondisi cuaca di Indonesia menjadi lebih kering," jelasnya.
Di wilayah Indonesia, El Nino memberikan dampak berupa makin berkurangnya jumlah curah hujan. “Terutama umumnya pada periode Juni hingga November. El Nino 2026 saat ini telah aktif dan diprediksi akan berlangsung hingga awal 2027," ungkap Supari.
Dalam keterangannya, Supari juga menegaskan BMKG tidak pernah menggunakan istilah 'Godzilla' untuk menggambarkan fenomena El Nino.
"Untuk memberikan gambaran tentang intensitas El Nino, BMKG selalu menggunakan istilah yang terstandar internasional yang mudah dipahami. Istilah Godzilla bukan merupakan istilah standar dan BMKG tidak pernah menggunakan istilah tersebut," jelas Supari.