
UPdates—Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky membagikan video di media sosial yang memperlihatkan sebuah drone memburu seorang pria di Ukraina selatan. Ia menyebutnya sebagai contoh serangan "safari" Rusia terhadap warga sipil.
You may also like :
Bantah Israel-AS, Dubes Pakistan untuk Amerika Tegaskan Lebanon Termasuk dalam Perjanjian Gencatan Senjata
Video tersebut memperlihatkan drone yang mengejar seorang pedagang kaki lima di jalan kota di wilayah Kherson.
You might be interested :
Rumah Putin Diserang Pakai 91 Drone, Rusia Pastikan Serangan Balasan
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari BBC, Rabu, 5 Agustus 2026, BBC Verify berhasil menentukan lokasi video tersebut, yakni di area pasar di samping sebuah bundaran di distrik Tavriiskyi, wilayah utara Kherson.
Tidak jelas siapa yang merekam serangan tersebut atau bagaimana caranya, namun salinan awal yang ditemukan oleh BBC Verify dibagikan oleh sebuah akun Instagram pro-Ukraina pada Selasa pagi.
Dalam rekaman tersebut pria itu tampak berusaha menjauh dari drone yang melayang di atasnya. Namun, drone itu terus mengejarnya saat ia berlari mengelilingi sebuah mobil van putih.
Tidak lama berselang, drone tersebut menukik ke arah pria bertubuh gemuk tersebut di samping mobil dan meledak.
Pria itu selamat namun menderita sejumlah luka akibat serpihan ledakan, gegar otak, dan trauma, menurut keterangan seorang dokter.
Praktik yang terkadang disebut sebagai "safari manusia" ini—yakni penggunaan drone yang dikendalikan dari jarak jauh untuk menyerang warga sipil—sering dilakukan oleh pihak Rusia untuk meneror penduduk di wilayah garis depan Ukraina.
"Dunia harus melihat ini," tulis Zelensky di Telegram sebagaimana dilansir dari BBC.
"Dunia harus melihat setiap bukti bahwa Rusia telah kehilangan akal sehatnya, serta setiap fakta bahwa tentara Rusia menikmati aksi pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang-orang," tegasnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha menyebut video tersebut memperlihatkan sebuah aksi biadab. "Kejahatan perang yang biadab," ujar Andrii Sybiha.
Aksi "safari" ini merupakan "strategi Rusia yang disengaja dan sistematis," kata Sybiha.
"Sosok sadis yang mengoperasikan drone ini sangat paham bahwa ia sedang menargetkan warga sipil," lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari kampanye Rusia yang disengaja untuk mengintimidasi warga sipil, seraya menyerukan kecaman internasional.
Gubernur wilayah Kherson kemudian mengunggah video yang memperlihatkan pria tersebut—yang diidentifikasi sebagai Yuriy, seorang pedagang sayur keliling berusia 52 tahun—sedang berbicara dari ranjang rumah sakit setelah serangan drone itu terjadi.
Yuriy menuturkan bahwa ia dan istrinya baru saja mulai menata peti-peti sayuran di samping mobil van miliknya ketika ia mendengar suara dengungan khas dari arah atas.
Saat istrinya berlari menyelamatkan diri, drone itu justru beralih mengejar Yuriy. Ia sempat mengangkat beberapa bonggol bawang putih ke arah kamera drone untuk menunjukkan kepada operator bahwa ia tidak sedang mencoba merekam drone tersebut.
"Drone itu bisa melihat bahwa saya sedang mengeluarkan tomat, serta menata mentimun dan terong di lantai," ujar Yuriy.
"Drone itu bahkan sempat masuk ke bawah payung saat saya berlari menghindar ke sisi lainnya," lanjutnya.
Serangan "safari" telah lama dilakukan oleh pasukan Rusia di Kherson, wilayah yang terletak hanya beberapa mil dari garis depan pertempuran.
Sebuah laporan PBB tahun 2025 menyatakan bahwa pihaknya menemukan bukti angkatan bersenjata Rusia berulang kali menewaskan dan melukai warga sipil di wilayah tersebut dengan menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk menargetkan mereka.
Video yang direkam oleh drone sebelum meledak pada sasarannya sering kali diunggah secara daring, sehingga memungkinkan ribuan orang menyaksikan saat-saat terakhir para korban yang ketakutan.
"Mengunggah video yang memperlihatkan warga sipil tewas dan terluka merupakan tindakan yang termasuk dalam kategori kejahatan perang berupa pelanggaran terhadap martabat pribadi," demikian pernyataan PBB.
Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022 dan membantah menargetkan warga sipil.