
UPdates—Keluarga personel militer mulai resah dan mempertanyakan penugasan panjang dalam perang Iran.
You may also like :
Amerika Sudah Larang Operasi tanpa Batas Israel di Lebanon
Kepada para petinggi Angkatan Laut AS, mereka menyampaikan kekhawatiran terkait kesehatan mental dan kondisi kehidupan para pelaut serta Marinir di atas kapal USS Lincoln.
You might be interested :
Trump Beri Tugas Tersulit ke Angkatan Laut AS: Blokade Pelabuhan Iran dan Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz!
Menurut laporan MS NOW pada hari Jumat waktu AS, keresahan mereka muncul seiring berlanjutnya penugasan kapal tersebut dalam perang Iran tanpa adanya tanggal kepulangan yang pasti.
Sekitar 200 anggota keluarga menghadiri pertemuan pada hari Kamis di San Diego bersama Penjabat Menteri Angkatan Laut Hung Cao, untuk mencari jawaban mengenai penugasan yang berkepanjangan serta kondisi yang dihadapi oleh 5.000 pelaut dan Marinir di kapal induk tersebut.
Pihak keluarga menyampaikan kekhawatiran mengenai kelelahan, dukungan kesehatan mental, kekurangan makanan, kontaminasi air, masalah fasilitas sanitasi (kamar mandi), keselamatan, serta gangguan pada pengiriman surat.
Cao menyatakan bahwa Angkatan Laut sedang mempersiapkan gugus tugas kapal induk USS Theodore Roosevelt untuk penugasan di Timur Tengah yang nantinya akan menggantikan USS Lincoln, namun ia tidak menyebutkan tanggal pastinya dengan alasan keamanan operasional.
Hingga hari Jumat, USS Lincoln telah menjalani penugasan selama 259 hari sejak bertolak dari San Diego pada 21 November.
Menurut MS NOW, kapal tersebut hanya melakukan dua kali persinggahan selama periode itu—termasuk kunjungan singkat ke Oman pada 7 Juli—sehingga para awak kapal harus berada di laut selama 208 hari berturut-turut.
Laksamana Muda Joseph Cahill mengatakan bahwa Angkatan Laut memahami tekanan yang dihadapi oleh para pelaut dan keluarga mereka.
"Kami mendengar dan memahami sepenuhnya dampak hal ini terhadap keluarga, terhadap personel militer, serta terhadap kemampuan jangka panjang kami untuk tetap siaga dan menjaga kesehatan pasukan kami," ujar Cahill sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Para pejabat menyebutkan bahwa dukungan kesehatan mental mencakup konselor ketahanan selama penugasan, rohaniwan, dan Dewan Faktor Manusia (Human Factors Councils) yang bertujuan mengidentifikasi risiko yang memengaruhi kesejahteraan personel militer.
Pihak keluarga juga mempertanyakan kondisi di dalam kapal induk, termasuk toilet yang rusak dan dugaan adanya jamur di area pancuran. Pimpinan Angkatan Laut menjelaskan bahwa masalah "penyumbatan membandel" telah memengaruhi toilet di salah satu area, dan dugaan jamur tersebut kemungkinan besar hanyalah lumut akibat masalah ventilasi.
Gangguan pasokan telah berdampak pada ketersediaan makanan, produk perawatan pribadi, dan pengiriman surat. Laksamana Madya Douglas Verissimo mengatakan bahwa kendala logistik yang melibatkan Bahrain menyebabkan penumpukan besar setelah pertempuran pecah, sehingga Angkatan Laut terpaksa memprioritaskan pengiriman bahan makanan.
"Kami menangani urusan pasokan dan surat-menyurat dengan lebih baik. Situasinya terus membaik—meski belum ideal, dan sempat sangat buruk untuk beberapa waktu," ujarnya.
"Namun, sebagai sebuah bangsa, kami berupaya melakukan yang terbaik," tandasnya.