
UPdates - Bagi orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan akibat gempa bumi atau bencana serupa, kedatangan sekelompok kecoa suatu hari nanti bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.
You may also like :
Ajaib! Wanita Ini Lahirkan Bayi Kembar 4 Identik, 1 dari 15 Juta Kasus
Para insinyur biorobotika telah mengerjakan desain serangga cyborg (cyborg insects) berkaki enam dengan kamera dan alat suntik medis mini untuk misi pencarian dan penyelamatan atau search and rescue (SAR).
You might be interested :
Tragedi Gunung Kuda, 17 Korban Tewas Ditemukan, 8 Masih Hilang
Robot-robot ini dirancang untuk mengirimkan bantuan darurat kepada orang-orang yang terjebak di dalam bangunan yang runtuh, gua, atau tempat lain yang terlalu berbahaya untuk dijangkau oleh tim penyelamat.
“Paraborg” ini dikembangkan oleh para peneliti biorobotika dari Universitas Queensland (UQ) Australia, yang bekerja sama dengan para insinyur biomedis di Universitas New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.
Insinyur biorobotika UQ, Thang Vo-Doan, mengatakan bahwa penelitian mereka mengubah serangga siborg dari sensor bergerak menjadi penolong pertama yang mungil, sementara keputusan medis penting tetap berada di bawah kendali manusia.
“Serangga cyborg telah dirancang untuk misi pencarian dan eksplorasi selama beberapa dekade terakhir,” kata Vo-Doan, sebagaimana disadur Keidenesia.TV dari The Guardian, Kamis, 27 Agustus 2026.
“Kami ingin mengambil langkah selanjutnya. Setelah mereka menemukan seseorang, apakah orang itu benar-benar bisa membantu?”
Penelitian ini melibatkan pemasangan perangkat elektronik ringan dan kamera pada spesies yang hidup di Queensland utara, yaitu kecoa penggali raksasa (Macropanesthia rhinoceros).
Mereka juga dilengkapi dengan sistem injeksi otomatis yang diaktifkan dari jarak jauh dan dibuat khusus untuk spesies tersebut.
“Dengan meningkatkan biomekanik alami mereka, serangga siborg ini dapat memberikan bantuan darurat tepat waktu ketika akses langsung ke orang-orang yang terjebak di ruang sempit dan penuh puing tidak memungkinkan,” kata Vo-Doan.
Dalam pengujian konsep awal, paraborg mencapai tingkat keberhasilan 95% dengan injeksi jarak dekat (diposisikan dalam jarak 15 cm dari target). Tugas navigasi dan injeksi lengkap berhasil dalam 72% percobaan.