
UPdates—Di usia 16 tahun, saat kebanyakan remaja masih asyik bermain, Raul John Aju sudah menjalankan perusahaan rintisan (startup) AI dan membayar ayahnya Rs 2 lakh atau sekitar Rp37,2 juta per bulan.
You may also like :
Bocah Ajaib, 9 Tahun Sudah Kuliah, Calon Dokter Termuda di Dunia yang Ingin Jadi Ahli Bedah Otak
Namun, di balik tajuk berita yang mencengangkan itu, tersimpan kisah yang lebih besar tentang rasa ingin tahu, ambisi, dan kerendahan hati untuk terus belajar.
You might be interested :
Pesan Tulisan Tangan Mahatma Gandhi untuk Sahabatnya yang Berduka Terjual Rp28,9 Miliar
Pada usia sembilan tahun, Raul John Aju belajar sendiri tentang kecerdasan buatan (AI). Saat berusia 12 tahun, ia merakit sebuah robot. Memasuki usia 16 tahun, ia sudah menjalankan perusahaan sembari tetap bersekolah di Kelas 12.
Perjalanannya lebih terdengar seperti biografi seseorang yang usianya dua kali lipat darinya daripada kisah seorang remaja biasa.
Remaja asal Kerala ini kini memimpin sebuah startup dengan sekitar 15 karyawan dan telah mengembangkan lebih dari 15 perangkat AI.
Inisiatif pelatihannya dilaporkan telah menjangkau hampir 500.000 peserta didik di seluruh dunia. Ia telah berbicara di berbagai forum teknologi terkemuka, berpartisipasi dalam diskusi mengenai AI dan keselamatan anak, serta bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.
Ia bahkan mempekerjakan ayahnya, Aju Joseph, dan dilaporkan membayar sang ayah Rs 2 lakh (Rp37,2 juta) per bulan. Namun, bagian paling menarik dari kisah Raul mungkin bukanlah jumlah perangkat AI yang telah ia ciptakan, orang-orang yang telah ia latih, ataupun panggung-panggung yang telah ia naiki.
Hal yang paling menarik adalah, terlepas dari segala pencapaiannya di usia yang sangat muda, ia tetap menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ia pelajari seorang diri.
BOCAH SEMBILAN TAHUN YANG BELAJAR AI SECARA MANDIRI
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari India Today, Jumat, 28 Agustus 2026, ketertarikan Raul pada kecerdasan buatan (AI) bermula saat ia berusia sembilan tahun.
Pekerjaan ayahnya di Adobe memberinya akses ke perangkat teknologi premium, membuka jalan menuju bidang yang kala itu masih asing bagi kebanyakan anak seusianya.
Raul tidak hanya sekadar menggunakan teknologi tersebut; ia mulai mendalami cara kerjanya, bereksperimen dengan kemampuannya, serta mencari tahu apa yang bisa ia ciptakan dengannya.
Tiga tahun kemudian, rasa ingin tahu itu mewujud dalam bentuk nyata. Pada usia 12 tahun, Raul menciptakan MeBot, sebuah robot untuk proyek sains sekolah.
Hal ini menjadi pertanda awal mengenai pendekatannya terhadap teknologi: bukan sekadar sesuatu untuk dikonsumsi, melainkan sarana untuk berkarya.
Sejak saat itu, ia telah mengembangkan lebih dari 15 perangkat AI, termasuk MeBot, RESQ AI, ZapGap, Investo AI, dan FeedFye. Benang merah dari semua karyanya adalah kegunaan praktis.
Bagi Raul, teknologi memiliki nilai tertinggi ketika dapat diterapkan untuk mengatasi masalah nyata, bukan sekadar dipamerkan sebagai pencapaian teknis semata.
KETIKA SANG REMAJA MENJADI ATASAN AYAHNYA
Mungkin babak paling unik dalam perjalanan Raul adalah yang paling bersifat personal. Di usia 16 tahun, ia tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga mempekerjakan ayahnya sendiri.
Aju Joseph membawa pengalaman puluhan tahun dari berbagai perusahaan seperti Amazon, Adobe, Wipro, dan IBM—pengetahuan yang disadari Raul tidak mungkin diperoleh dalam semalam atau sekadar dipelajari melalui ponsel.
Raul mengatakan bahwa kehadiran ayahnya sebagai rekan kerja memungkinkannya belajar dari sosok yang memahami seluk-beluk operasional organisasi dan bisnis teknologi.
Ia bahkan berseloroh bahwa kehadiran sang ayah di perusahaan "bagus untuk pemasaran saya."
Di balik selera humor itu, tersirat sikap kepemimpinan yang dewasa. Raul memahami bahwa kesuksesan dini tidak berarti ia menguasai segalanya. Ia tahu persis di mana batas pengalamannya berakhir dan di mana pengalaman orang lain berperan.
Sang anak mungkin berperan sebagai atasan, namun ia tetap bersedia menjadi seorang pembelajar.
MENJADIKAN AI SEBAGAI PENGALAMAN BELAJAR
Kiprah Raul kini semakin melampaui sekadar pembuatan produk AI. Melalui perusahaan rintisan (startup) miliknya dan ThinkCraft Academy, ia berfokus besar pada pendidikan AI, dengan keyakinan bahwa teknologi tidak boleh terbatas hanya bagi lulusan ilmu komputer atau para profesional di bidang teknologi.
Inisiatif pelatihannya dilaporkan telah menjangkau hampir 500.000 peserta didik di seluruh dunia, termasuk mahasiswa dan profesional yang berafiliasi dengan IIT, IIM, universitas luar negeri, dan institusi perusahaan.
Ia juga berbagi pengetahuan seputar AI melalui media sosial, tempat ia dikenal dengan julukan "Raul the Rockstar."
Namun, pesannya bukan sekadar tentang cara menggunakan kecerdasan buatan. Raul berpendapat bahwa generasi muda harus merangkul AI tanpa kehilangan kualitas yang menjadikan mereka manusia—seperti kreativitas, empati, rasa ingin tahu, dan individualitas.
DARI KERALA HINGGA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
Perjalanan Raul telah membawanya jauh melampaui ruang kelasnya di Kerala. Kiprahnya di bidang AI telah membawanya terlibat dalam diskusi mengenai teknologi, pendidikan, dan layanan publik, termasuk inisiatif yang terkait dengan Kerala dan Dubai.
Pada acara India AI Impact Summit 2026 di New Delhi, ia berpartisipasi dalam sesi yang diselenggarakan PBB mengenai AI dan keselamatan anak, serta menyampaikan pidato pembukaan.
Ia juga bertemu dengan Utusan Khusus PBB Amandeep Gill dan berinteraksi dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.
Bagi seorang siswa Kelas 12, pencapaian-pencapaian ini sungguh luar biasa. Namun, Raul tampaknya tidak memandangnya sebagai garis finis, melainkan sebagai kesempatan lain untuk belajar, berkembang, dan memiliki impian yang lebih besar.
PESAN YANG MELAMPAUI AI
Dalam acara India Today South Conclave 2025, Raul berbicara mengenai potensi India untuk menjadi pemimpin di bidang teknologi.
Ia menekankan pentingnya penelitian, keterampilan, pendidikan, dan kreativitas, alih-alih hanya menganggap nilai akademis dan gelar sebagai satu-satunya tolok ukur potensi seorang anak muda.
Gagasan tersebut mewarnai perjalanan Raul. Pada usia sembilan tahun, ia mulai mendalami AI. Saat berusia 12 tahun, ia mewujudkan rasa ingin tahunya itu dengan menciptakan sebuah robot.
Memasuki usia 16 tahun, ia telah mendirikan perusahaan sembari menyadari bahwa ada pelajaran-pelajaran yang tidak bisa diperoleh hanya dari layar.
Mungkin pelajaran terpenting yang ia petik sangatlah sederhana: meraih kesuksesan di usia muda bukan berarti mengetahui segalanya, melainkan memahami apa saja yang masih perlu dipelajari.
Meski masih duduk di Kelas 12, Raul terus bereksperimen, belajar, dan berkarya. Ia tidak menunggu hingga dewasa untuk mulai membentuk masa depannya; ia telah memulainya sejak usia sembilan tahun.