
UPdates—Kumpulan 688 catatan refleksi tulisan tangan karya Mahatma Gandhi telah terjual seharga £1,2 juta (Rp28,9 miliar) dalam sebuah lelang di India. Angka itu mencetak rekor untuk dokumen sejarah India yang dijual melalui lelang.
You may also like :
39 Tewas dan 51 Terluka di Pawai Politik Aktor India, Vijay
Pesan-pesan tulisan tangan tersebut ditujukan kepada Anand T. Hingorani, seorang rekan dekat Gandhi sekaligus sesama partisipan dalam gerakan kemerdekaan India.
You might be interested :
Prabowo: Mahatma Gandhi Inspirasi Saya Memperjuangkan Keadilan dan Kebebasan
Menurut balai lelang Saffronart, pesan-pesan itu ditulis selama hampir dua tahun, mulai dari 20 November 1944 hingga 10 Oktober 1946, dan kemudian disusun menjadi sebuah buku berjudul A Thought for the Day.
Konteks penulisan pesan-pesan tersebut sangatlah personal; istri Hingorani, Vidya, telah meninggal dunia. Menurut keluarga Hingorani, ia mencurahkan rasa kesepian dan dukacitanya kepada Gandhi saat sedang menjalani pengobatan alami untuk mengatasi ketuliannya.
Gandhi menanggapi dengan menuliskan sebuah pemikiran setiap harinya, mengubah tindakan penghiburan pribadi tersebut menjadi salah satu catatan paling ekstensif yang masih ada mengenai hubungan mereka.
"Gandhi menanggapi dengan meluangkan waktu setiap hari untuk menuliskan pemikiran pribadi. Apa yang bermula sebagai pertukaran pesan pribadi segera berkembang menjadi sebuah proyek kolaboratif," ujar Minal Vazirani, salah satu pendiri sekaligus presiden Saffronart, kepada The Indian Express sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari The Independent, Sabtu, 22 Agustus 2026.
"Meskipun Gandhi yang menulis setiap refleksi tersebut, Hingorani berperan sebagai penerima, pengatur, dan penyalin, yang pada akhirnya mempersiapkan tulisan-tulisan itu untuk diterbitkan," ungkapnya.
Ke-688 catatan tersebut mencakup berbagai topik yang menjadi perhatian Gandhi sepanjang hidupnya, termasuk kebenaran, ahimsa atau antikekerasan, brahmacharya (pengendalian diri), sikap tidak melekat pada harta benda (non-possession), keberanian, kesetaraan agama, doa, pengabdian, kerja, kewajiban, keheningan, hati nurani, realisasi diri, serta pencarian akan Tuhan.
Sebuah kumpulan yang terdiri dari sembilan surat dari tahun 1930 dan 1931 membahas tentang pernikahan Anand dan Vidya Hingorani, termasuk penentangan dari orang tua, kemandirian finansial, rekonsiliasi dalam keluarga, serta pandangan Gandhi mengenai pengendalian diri dan kewajiban dalam rumah tangga.
Koleksi yang lebih luas ini dilestarikan oleh keluarga Hingorani secara turun-temurun dan ditawarkan dalam penjualan yang mencakup 86 lot oleh Saffronart dengan judul Gandhi: From the Collection of Anand T Hingorani.
Catatan refleksi tersebut—yang menjadi sorotan utama dalam lelang—sebelumnya diperkirakan bernilai antara 150 juta Rupee (£1,1 juta) hingga 250 juta Rupee (£1,9 juta), dan pada akhirnya terjual seharga 162 juta Rupee (£1,2 juta).
Saffronart menyatakan bahwa hasil penjualan ini mencetak rekor dunia untuk dokumen sejarah India yang dijual melalui lelang.
Di antara lot penting lainnya adalah Message on God (Pesan tentang Tuhan), sebuah kumpulan yang terdiri dari tiga naskah dan surat yang mendokumentasikan pemikiran Gandhi mengenai Tuhan dan Bhagavad Gita; koleksi ini terjual seharga 16,8 juta Rupee (£128.518).
Peti charkha miliknya—sebuah alat pemintal benang berbentuk kotak portabel—yang disertai dengan dua pucuk surat mengenai disiplin spiritual memintal benang, terjual seharga 10,2 juta Rupee (£78.040).
Sebuah foto Gandhi yang sedang menulis, lengkap dengan tanda tangan dan dedikasi, terjual seharga 7,8 juta Rupee (£59.678). Sementara kumpulan surat, telegram, dan kartu pos miliknya yang berkaitan dengan kemandirian ekonomi terjual seharga 5,8 juta Rupee (£44.376).
"Hal yang membuat koleksi ini begitu istimewa adalah kesempatan untuk melihat salah satu tokoh paling penting dalam sejarah India melalui sudut pandang hubungan pribadi yang erat," ujar Dinesh Vazirani, salah satu pendiri Saffronart, dalam sebuah pernyataan.
Ia menambahkan bahwa berbagai catatan tersebut memperlihatkan bagaimana Gandhi menjalankan prinsip-prinsip yang ia suarakan di hadapan publik, seraya menyebutnya sebagai rekam jejak yang berharga mengenai pemikiran dan praktik sang tokoh.
Identitas pembeli tidak diungkapkan kepada publik; pihak Saffronart mengonfirmasi bahwa pembeli berasal dari dalam India dan naskah tersebut akan tetap berada di negara itu.