
UPdates—"Dia bilang desa itu sudah lenyap: tersapu sungai. Dia menyuruh saya lari."
You may also like :
Korban Tewas Banjir Bandang Nepal-Tibet Sudah 676 Orang, 2.976 Masih Hilang
Peringatan itu datang pada pukul 09.20 pagi hari Rabu dari seorang teman kepada Rajendra Dawadi, kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli di Lembah Trishuli, Nepal.
You might be interested :
Korban Meninggal Gempa NTT 111 Orang, Sudah 9.278 Gempa Susulan
Saat itu, ia sedang mengawasi 1.643 anak di dalam dan di sekitar sekolah berlantai tiga tersebut ketika banjir bandang dahsyat—yang dipicu oleh runtuhnya gletser—menerjang sistem sungai pegunungan, menewaskan lebih dari 750 orang di Nepal dan 16 orang di Tibet.
Bangunan, jembatan, dan pembangkit listrik tersapu arus deras yang membawa batu, es, lumpur, dan puing-puing melintasi wilayah tersebut.
Menurut data terbaru, sekitar 2.498 orang masih dinyatakan hilang di Nepal, sementara 546 orang lainnya hilang di wilayah Gyirong, Tibet.
Di tengah naiknya permukaan air banjir dengan cepat, Dawadi—seorang guru bahasa Inggris berusia 47 tahun—hanya memiliki waktu beberapa menit untuk bertindak.
Pagi itu, ia bertanggung jawab atas keselamatan anak-anak di sekolah yang terletak di wilayah Nuwakot yang terdampak banjir, dan keselamatan mereka bergantung pada keputusannya.
Menurut The Times, awalnya, Dawadi mengira sekolah itu aman. Dibangun dari beton dan terletak sekitar 60 meter di atas permukaan sungai, sekolah itu berdiri pada ketinggian yang sama dengan jembatan baja yang menghubungkan desa tersebut dengan tepian sungai di sisi timur.
Kemudian, seorang orang tua murid datang dengan tergesa-gesa membawa kabar yang lebih mengkhawatirkan: permukaan air naik dengan cepat.
Dawadi membunyikan bel sekolah dan memerintahkan para guru untuk mengevakuasi murid dari ruang kelas.
Ia menghubungi para sopir bus sekolah dan memerintahkan semuanya—kecuali satu orang—untuk berbalik arah. Saat itulah ia melihat bus yang tidak berhasil ia hubungi sedang melintasi jembatan.
Pada saat itu, anak-anak mulai menyadari bahwa mereka dalam bahaya. Seorang siswi mengalami serangan panik dan dibawa ke tempat yang lebih tinggi menggunakan sepeda motor.
Siswa lainnya melarikan diri dengan berjalan kaki, sementara menurut laporan The Times, Dawadi mengikuti di belakang mereka.
Anak-anak tersebut akhirnya berlindung di bawah pohon bodhi saat air bah menghanyutkan bangunan sekolah mereka.
Tindakan cepat tanggap Dawadi berhasil menyelamatkan 1.643 anak dan seluruh staf pengajar, kecuali satu orang.
Guru sejarah sosial Santos Pariyar (32 tahun) hanyut terbawa arus setelah kembali ke kamar sewaannya di tepi sungai untuk memasak sarapan.
Petugas kebersihan sekolah, Sultan Lama, juga tewas setelah kembali untuk menutup pintu-pintu sekolah.
Warga setempat menyebut Dawadi sebagai pahlawan karena telah menyelamatkan anak-anak tersebut. Namun, ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.
"Apa lagi yang bisa saya lakukan?" ujarnya seraya mengamati puing-puing berlumpur di lokasi tempat sekolah itu sebelumnya berdiri sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari India Today, Minggu, 30 Agustus 2026.
Banjir bandang tersebut dipicu oleh bongkahan besar es dan batu yang lepas dari puncak Langtang Lirung dan jatuh sejauh sekitar 1.200 meter ke dalam jurang curam di bagian hulu sungai Lhende Khola, dekat perbatasan Tibet.
Daniel Shugar, seorang ahli geomorfologi dari Universitas Calgary, memperkirakan massa bongkahan tersebut mencakup area seluas hampir sekitar 20 hektare.
Wilayah ini pernah mengalami tragedi sebelumnya. Pada bulan April 2015, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang menewaskan 8.962 orang di seluruh Asia Selatan memicu longsoran salju yang mengubur seluruh 300 penduduk Langtang, wilayah yang terletak di distrik Rasuwa yang juga dilanda banjir.