
UPdates—Pentagon mengakui dahsyatnya kerusakan dan besarnya biaya yang ditimbulkan akibat serangan Iran dalam perang yang berlangsung sejak Februari.
You may also like :
Iran Sebut AS Serang Kapal Komersial, 1 Tewas dan 3 Terluka
Mereka menyebut serangan Iran telah merusak dan menghancurkan ratusan bangunan di pangkalan-pangkalan AS di seluruh Timur Tengah.
You might be interested :
Warga AS Menangis, Menyesal Seumur Hidup Pilih Trump di Pilpres Setelah Saudaranya Meninggal dalam Tahanan ICE
Sebuah lembaga pengawas pemerintah AS merilis laporan pertamanya mengenai dampak perang dengan Iran pada hari Senin waktu Amerika.
Laporan tersebut mengakui adanya kekurangan pasokan senjata canggih militer serta menyajikan gambaran publik pertama mengenai kerusakan pada pesawat, pangkalan, dan pos diplomatik Amerika di Timur Tengah.
Sebagian besar informasi ini telah dilaporkan sebelumnya selama enam bulan terakhir, namun laporan dari inspektur jenderal Pentagon ini memberikan rincian resmi terlengkap sejauh ini mengenai dampak konflik tersebut. Baik dari segi korban jiwa warga Amerika, biaya yang ditanggung pembayar pajak, maupun kerusakan fisik.
Laporan ini memuat informasi dari lembaga pengawas Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri, serta Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).
Laporan tersebut—yang penerbitannya pertama kali diberitakan oleh NBC News—mencatat bahwa perang AS dengan Iran telah mengakibatkan kekurangan inventaris strategis dan mengungkap hambatan pada basis industri untuk pasokan ulang amunisi, khususnya terkait senjata canggih.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Fortune, Selasa, 15 September 2026, para ahli sebelumnya menyatakan bahwa kontraktor militer akan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk memulihkan stok rudal canggih dan rudal pencegat pertahanan ke tingkat sebelum perang.
Laporan yang mencakup periode 1 April hingga 30 Juni itu juga mengakui bahwa serangan Iran telah merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta struktur lainnya di pangkalan AS yang berlokasi di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania. Puluhan pesawat dan pesawat nirawak (drone) Amerika juga hancur atau mengalami kerusakan.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan kepada Kongres pada akhir Juli bahwa perang tersebut telah menelan biaya sebesar $37,5 miliar (Rp662 triliun) sejauh ini.
Namun, rincian biaya terkait fasilitas diplomatik AS sebelumnya belum pernah diungkapkan kepada publik.
Menurut laporan tersebut, pos-pos diplomatik di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan UEA menanggung dampak kerusakan fisik terberat, dengan perkiraan biaya perbaikan mencapai $184 juta (Rp3,2 triliun).
Departemen Luar Negeri melaporkan pada awal Juni bahwa total biaya akibat konflik tersebut mencapai $113 juta (Rp1,9 triliun), dengan hampir $80 juta (Rp1,4 triliun) digunakan untuk pelaksanaan rencana kontingensi, termasuk biaya evakuasi bagi personel AS beserta keluarga mereka, serta warga negara Amerika lainnya dan warga negara ketiga yang memenuhi syarat.
Departemen Luar Negeri melaporkan bahwa pada minggu-minggu dan bulan-bulan setelah AS dan Israel pertama kali menyerang Iran pada 28 Februari, pemerintahan Trump mengevakuasi sekitar 9.000 warga negara AS dari berbagai negara di Timur Tengah dan Eropa.
Melalui penerbangan pribadi dan komersial serta perjalanan darat dan laut, biaya operasi evakuasi departemen tersebut mencapai lebih dari $11 juta (Rp194 miliar) hingga akhir Juni.
"Departemen Luar Negeri menetapkan bahwa petugas konsuler tidak akan dapat mendokumentasikan secara lengkap rencana perjalanan yang diperlukan untuk mengajukan penggantian biaya dari para evakuee, sehingga tidak praktis untuk menuntut penggantian biaya dari mereka," demikian bunyi laporan tersebut.
Sebagian besar evakuasi dilakukan dari Israel, disusul kemudian oleh Irak dan Yordania. Meskipun AS hanya mengevakuasi 1.200 warga Amerika dari Uni Emirat Arab, perjalanan ke Istanbul, Athena, dan Washington tersebut memakan biaya terbesar, yakni lebih dari $4 juta (Rp70,6 miliar).
Departemen Luar Negeri melaporkan bahwa penjualan militer—baik yang bersifat darurat maupun non-darurat—senilai lebih dari $44 miliar (Rp777,6 triliun) juga terjadi dalam kurun waktu tersebut, dengan sebagian besar penjualan ditujukan ke Arab Saudi.
Penjualan tersebut mencakup helikopter militer, amunisi dan dukungan amunisi, serta sistem senjata presisi canggih.
Negara-negara kawasan lainnya, termasuk Qatar, Kuwait, UEA, dan Israel, juga menerima penjualan bernilai miliaran dolar, seiring langkah Iran melakukan pembalasan terhadap hampir setiap negara di kawasan tersebut yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.