The K Facts - Bumi Pertiwi tak pernah bisa lepas dari satu aktor watak yang enggan turun panggung. Dialah karhutla, sang peluka hutan dan lahan.
Setiap tahun ia kembali, membawa kabut asap, kecemasan, dan pertanyaan yang sebenarnya sudah terlalu sering kita lontarkan, “Apa penyebabnya?”
You may also like :
Detik-Detik Tim Resmob Bareskrim Polri Gerebek Judi Kasino Terbesar di Kota Batam
Sebuah pertanyaan yang selalu kita ucapkan setelah api sudah membesar, dan asap terlanjur menyesakkan dada.
You might be interested :
The K Facts Eps. 33: Koperasi Merah Putih, Apa Kabarmu?
Dan tahun ini, cerita lama itu kembali terulang. Seolah negeri ini punya skenario tetap untuk mengingatkan kita bahwa ketika kemarau tiba, api pun bersiap mengambil peran.
Hingga Juli 2026, Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 202 ribu hektar lahan telah terbakar di berbagai wilayah Indonesia.
Di enam provinsi prioritas saja, hingga awal Agustus, hampir 49 ribu hektare lahan telah terbakar.
Angka-angka itu mungkin terdengar statistik saja, tapi jangan lupa, di setiap jengkal hutan dan lahan yang terbakar, ada kehidupan yang kian sekarat di tengah kepungan udara kotor.
Tahun ini alam memang sedang tidak baik-baik saja. El Nino membuat lahan mengering dan lebih mudah terbakar.
Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menyalahkan cuaca. El Nino boleh membuat tanah kehilangan air, tetapi ia tidak pernah datang dengan membawa pemantik api.
Dan ketika polisi berhasil membuka tabir kasus pembakaran yang sengaja dilakukan untuk membuka lahan, kita pun menyadari bahwa sebagian persoalan, bukan lagi sekadar tentang cuaca.
Di balik lahan yang terbakar, ada keputusan yang diambil dengan sengaja. Dan saat itu, persoalannya tidak lagi mengenai musim kering semata.
Hingga 21 Agustus, Polri telah menangani 89 laporan karhutla, dan menetapkan 72 tersangka di sembilan wilayah Polda.
Sejumlah perusahaan yang arealnya terbakar, juga telah dikenakan sanksi, bahkan ada yang izinnya dibekukan.
Namun pertanyaannya sederhana, “Mengapa kita hanya melakukan itu setelah hutan hangus terbakar?”
Kita seolah kembali memainkan pertunjukan tahunan yang sama: api berkobar, asap menyengat, masyarakat mengeluh, pemerintah bergerak, dan ketika hujan turun, semuanya perlahan kembali dilupakan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menunggu kapan karhutla akan padam dan mulai bertanya: Kapan kita benar-benar menuntaskannya?”
Karena jika hari ini kita mewariskan asap dan tanah yang terbakar, jangan heran jika suatu hari anak-anak kita menagih kembali apa yang pernah kita bakar atas nama keuntungan.
Dan ketika itu terjadi, mungkin yang tersisa bukan lagi api untuk dipadamkan, tetapi penyesalan yang sudah terlambat untuk diselamatkan.
Widget ini membantu Anda sahabat IDenesian mencari hashtag terbaik untuk postingan instagram kamu agar outstanding !
Klik tiap hashtagnya untuk memilih, atau klik Copy All untuk menyalin semuanya :)