
UPdates—Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa tidak akan ada perundingan ataupun pembukaan kembali Selat Hormuz sampai syarat-syarat Iran dipenuhi dan komitmen AS dilaksanakan.
You may also like :
Iran Sebut AS Serang Kapal Komersial, 1 Tewas dan 3 Terluka
Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidato pra-agenda pada sidang terbuka parlemen pada hari Minggu, 20 September 2026 menjelang peringatan dimulainya perang pertama yang dipaksakan terhadap Iran dan Pekan Pertahanan Suci.
You might be interested :
Trump dan Netanyahu Diklaim Kirim Sinyal Serangan Besar akan Segera Terjadi di Timur Tengah
Negosiator Teheran itu mengatakan bahwa Pekan Pertahanan Suci bukan sekadar meninjau kembali memori sejarah, melainkan sebuah pengalaman nyata yang telah teruji dalam menjaga kemerdekaan dan martabat nasional dari serangan musuh.
Qalibaf menyebutkan bahwa Iran sedang mengulangi pengalaman sejarah yang sama, namun dengan perbedaan bahwa kali ini perlawanan rakyat Iran tidak hanya menjamin keamanan Iran, tetapi juga—melalui pembentukan tatanan baru di kawasan dan dunia—akan membuka peluang di bidang ekonomi dan strategis.
"Sikap berharga dan bersejarah dari rakyat ini, sebagaimana telah membangun Iran yang kuat saat ini dari masa tahun 1980-an, kini akan mengangkat Iran ke tingkat wibawa dan kemajuan yang baru," katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari MNA.
Ia mengatakan bahwa bertepatannya hari-hari ini dengan dimulainya tahun ajaran baru membawa pesan strategis.
"Ruang kelas adalah garis depan baru bagi Pertahanan Suci dan salah satu pilar daya tangkal nasional. Kehadiran para pelajar Iran di medan pendidikan menjaga panji perlawanan bangsa tetap berkibar," tegasnya.
"Kami tidak akan membiarkan ilusi musuh memperlambat denyut kehidupan, produksi, dan ilmu pengetahuan di negeri ini, karena dinamika sekolah yang tak terbendung merupakan wujud kekalahan strategis musuh dalam upayanya menggambarkan kondisi stagnasi," lanjut Qalibaf.
Seraya menyapa rakyat Iran, ia berkata, "Selama tujuh bulan terakhir, kami telah menunjukkan bahwa kami tidak bersikap pasif dalam menghadapi agresi. Logika kami dalam menghadapi musuh adalah langkah maju yang cerdas dan penegasan kehendak bangsa Iran."
"Kami meyakini bahwa dikotomi antara perang atau perundingan bukanlah hal yang nyata. Sebaliknya, kita harus melakukan keduanya: berjuang sekaligus berunding. Kita harus berjuang secara rasional dan penuh kekuatan, serta pada saat yang tepat, berunding dengan wibawa dan rasionalitas," sambungnya.
Ia melanjutkan, "Itu berarti pada saat yang krusial, dengan mengerahkan seluruh kekuatan militer yang kita miliki, kita akan memukul mundur musuh dan melancarkan serangan mematikan terhadap mereka. Namun, setelah kita meraih kemenangan signifikan di medan tempur dan musuh melemah, kita akan mengukuhkan pencapaian tersebut melalui diplomasi; dengan demikian, melalui kekalahan yang kita timpakan kepada musuh serta penguatan komponen kekuatan kita sendiri, kita akan mencapai tahap pencegahan (deterensi)."
Qalibaf menyatakan bahwa posisi Iran di kancah diplomasi sangat jelas, rasional, dan tidak dapat ditawar. "Penyampaian pesan dan penjelasan mengenai syarat-syarat kami telah dilakukan secara terus terang kepada pihak lawan melalui perantara, dan musuh sangat memahami bahwa jalan tipu daya serta pemaksaan kehendak secara sepihak sudah tertutup,” ujarnya.
“Selama syarat-syarat tersebut belum dipenuhi, hak-hak sah bangsa Iran belum diakui, dan komitmen AS belum dilaksanakan, maka tidak akan ada peluang untuk kembali ke kondisi negosiasi sebelumnya ataupun pembukaan kembali Selat Hormuz," tegasnya.
Klaimnya, tatanan lama Amerika di Timur Tengah sudah hancur. "Saat ini, tatanan lama Amerika di Asia Barat telah runtuh, dan negara-negara Islam di kawasan inilah yang harus mewujudkan tatanan baru," ujarnya.