
UPdates—Korps Angkatan Darat ke-3 Ukraina menyatakan bahwa pasukannya menggunakan drone pengebom berat untuk menerjunkan robot darat kamikaze hingga lebih dari 10 kilometer di belakang garis pertahanan Rusia selama operasi serangan balik di Oblast Donetsk.
You may also like :
Iran dan AS Saling Mengancam di Tengah Eskalasi Serangan Houthi
Pengerahan tersebut dilakukan dalam rangkaian Operasi Vivaldi, sebagaimana disampaikan pihak korps pada 20 September.
You might be interested :
1.000 Lebih Drone Ukraina Serbu Rusia, Ratusan Sasar Moskow dalam Semalam
Menurut pihak militer, drone pengebom berat membawa kendaraan darat tak berawak (UGV) ke wilayah belakang pertahanan Rusia sebelum menjatuhkannya untuk melanjutkan misi di darat.
Brigadir Jenderal Andrii Biletskyi, komandan Korps Angkatan Darat ke-3, menyebutnya sebagai operasi pertama di dunia yang menggunakan metode semacam itu. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
"Infanteri memenangkan perang, namun kami melindungi infanteri kami, sehingga robotlah yang maju menghadapi musuh terlebih dahulu," ungkap pihak korps sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Hromadske, Senin, 21 September 2026.
Pasukan Ukraina juga menggunakan sistem peperangan elektronik dan pertahanan udara untuk mengganggu drone pengintai Rusia, sehingga mencegah pasukan Rusia mendeteksi operasi yang telah direncanakan tersebut.
Pengerahan ini terjadi pada tahap kedua Operasi Vivaldi, sebuah serangan balik Ukraina di wilayah utara Oblast Donetsk yang pertama kali diumumkan oleh Biletskyi pada 15 September.
Korps Angkatan Darat ke-3 menyatakan pada 20 September bahwa pasukan Ukraina telah berhasil merebut kembali kendali atas permukiman Shandryholove, Derylove, dan Drobysheve selama tahap terbaru operasi tersebut.
Menurut pihak korps, pasukan Ukraina telah merebut kembali wilayah seluas total 125 kilometer persegi selama dua tahap Operasi Vivaldi, termasuk 50 kilometer persegi yang direbut kembali dari pendudukan Rusia.