
UPdates—Pasukan AS bersiap untuk melancarkan serangan besar terhadap Iran dalam waktu 96 jam setelah menerima perintah dari Presiden AS Donald Trump.
You may also like :
Masih Baper Tidak Dianugerahi Nobel Perdamaian, Trump Tolak Imigran Norwegia
Perihal kesiapan itu diungkap dua pejabat AS kepada CNN pada hari Minggu waktu setempat.
You might be interested :
Netanyahu Perintahkan “Penguncian Total” Tepi Barat Setelah Israel Tembak Mati 2 Warga Palestina
Meskipun Trump belum mengambil keputusan akhir mengenai apakah akan melakukan tindakan militer besar setelah pemilihan paruh waktu AS, para pejabat menyatakan bahwa serangan apa pun yang dilakukan akan menjadi upaya besar.
Bahkan, serangan itu akan jauh melampaui serangan-serangan AS sebelumnya terhadap aset-aset Iran yang dapat dibangun kembali dengan cepat, seperti peluncur rudal dan radar.
Salah satu sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada CNN bahwa Israel telah bersiap untuk kemungkinan menyerang Iran, sekaligus melobi AS agar turut serta dalam serangan tersebut.
Namun, para pejabat AS, termasuk Trump, meminta Israel untuk menunda serangan, kemungkinan hingga setelah pemilihan paruh waktu berakhir.
"Rencananya sudah siap, tinggal menunggu persetujuan Trump; bisa jadi setelah pemilihan paruh waktu," ujar sumber tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari The Jerusalem Post, Senin, 26 Oktober 2026.
Dua sumber lain mengatakan kepada CNN bahwa, menurut intelijen AS, Iran maupun kelompok Houthi menanggapi kemungkinan adanya serangan baru dari AS dengan sangat serius.
Serangan apa pun yang dilancarkan oleh AS—atau Israel—akan memicu pembalasan langsung terhadap personel dan fasilitas AS di Timur Tengah, tambah sumber tersebut.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa AS diperkirakan akan menarik lebih banyak personel dari kedutaan-kedutaan besarnya di kawasan tersebut.
Meski demikian, seorang sumber yang memahami penilaian intelijen AS mengatakan bahwa para pejabat meyakini Iran maupun kelompok Houthi kemungkinan tidak akan melakukan serangan pendahuluan terhadap infrastruktur AS atau Israel pada tahap ini.
Gedung Putih menolak berkomentar, sementara seorang pejabat senior Pentagon mengatakan kepada CNN bahwa semua opsi bergantung perintah Trump.
“Departemen ini adalah organisasi perencana, dan tugasnya adalah mengembangkan serta melaksanakan opsi-opsi militer yang diperintahkan oleh Presiden," ujarnya.