UPdates—Seorang pria berusia 26 tahun telah ditarik dari reruntuhan di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, lima hari setelah negara itu dilanda gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang dahsyat.
You may also like : Sukabumi Dikepung Bencana, BNPB Imbau Wilayah Lain di Indonesia Siaga
Tim penyelamat lokal dan Turki menemukan pria bernama Naing Lin Tun itu dan memastikan bahwa dia masih hidup menggunakan kamera endoskopi.
You might be interested : Gempa Dahsyat Myanmar dan Thailand, KBRI: Belum Ada Laporan Korban WNI
Mereka kemudian membuat lubang melalui reruntuhan hotel tempat dia bekerja dan membawanya ke tempat aman pada Rabu pagi, hampir 108 jam setelah dia terkubur.
Operasi penyelamatan memakan waktu lebih dari sembilan jam, menurut MRTV yang dikelola pemerintah sebagaimana dilansir keidenesia.tv dari Euro News, Rabu, 2 April 2025.
MRTV melaporkan pada hari Rabu bahwa jumlah korban tewas di Myanmar telah meningkat menjadi 2.886, dengan 4.639 orang lainnya terluka.
Kepala junta yang merebut kekuasaan dalam kudeta militer pada tahun 2021, Min Aung Hlaing mengatakan, jumlah korban tewas di Myanmar diperkirakan akan meningkat di atas 3.000 pada hari Rabu.
Lima hari setelah gempa bumi mematikan tersebut, harapan untuk menemukan korban selamat lainnya semakin memudar, karena tim penyelamat terhambat oleh perang saudara yang sedang berlangsung di negara itu, serta oleh kerusakan parah yang disebabkan gempa bumi pada jalan dan jembatan.
Kelompok kemanusiaan telah menyerukan gencatan senjata antara militer dan berbagai kelompok etnis bersenjata untuk memfasilitasi pengiriman bantuan.
Meskipun beberapa kelompok pemberontak telah mengumumkan gencatan senjata sepihak, laporan menunjukkan bahwa junta masih melancarkan serangan di daerah-daerah yang rusak akibat gempa bumi.
Tom Andrews, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, mengatakan serangan militer harus dihentikan.
"Fokus di Myanmar seharusnya pada penyelamatan nyawa, bukan perampasan nyawa," katanya.
Gempa bumi hari Jumat telah memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah mengerikan di Myanmar.
Bahkan sebelum bencana, hampir 20 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sementara itu, di negara tetangga Thailand, yang juga terkena dampak, pihak berwenang mengatakan bahwa sedikitnya 22 orang tewas.