Kepala Badan Geologi, Lana Saria (Foto: Instagram)

Badan Geologi: Suara Dentuman dan Getaran di Jabar, Banten, dan Lampung Diduga Berkaitan Anak Krakatau

5 September 2026
Font +
Font -

UPdates—Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunungapi Anak Krakatau.

You may also like : tkp anak pks18 Hari Diburu, Begini Kronologi Penangkapan Terduga Pelaku Pembunuhan Anak Dewan Pakar PKS Cilegon

Hal itu diungkap Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam Laporan Khusus Fenomena Erupsi Menerus Gunungapi Anak Krakatau Tanggal 5 September 2026.

You might be interested : gunung anak krakatau pvmbgSuara Dentuman Misterius Gegerkan Warga di Sejumlah Wilayah, Ini Penjelasan BMKG

“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan,” katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, Sabtu, 5 September 2026.

Ia menjelaskan bahwa sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh.

Berdasarkan laporannya, hingga Sabtu, 5 September 2026, pukul 04.40 WIB masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK.

Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus.

Menurutnya, fenomena erupsi ini menyerupai “lava fountain” atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.

“Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi,” jelasnya.

Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.

Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar.

Lana Saria menyampaikan rekomendasi teknis Level III (Siaga) Gunungapi Anak Krakatau. Pertama, masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau.

Kedua, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Ketiga, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.

Anak Krakatau merupakan gunungapi aktif tipe A di perairan Selat Sunda, yang secara administrasi termasuk kedalam pada wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Meskipun demikian, pengamatan Gunungapi Anak Krakatau dilakukan melalui 2 pos pengamatan gunungapi, yaitu Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >