
UPdates—Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membantah pernyataan pengamat yang memprediksi masa depan perekonomian Indonesia akan suram.
You may also like :
Kemenkeu Buka Seleksi CPNS 2026 untuk Lulusan SMA di Seluruh Kota
Ia menegaskan, pernyataan yang menyebut Indonesia akan segera menghadapi kehancuran ekonomi atau resesi tidak berdasar pada perhitungan data yang akurat.
Ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 27 Maret 2026, Menkeu Purbaya mengatakan tentang pentingnya objektivitas bagi para pengamat ekonomi.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2020–2025 itu menyayangkan, adanya narasi yang dianggap hanya memicu kekhawatiran publik tanpa dukungan angka-angka yang jelas.
Ditegaskan Purbaya, dirinya sangat terbuka terhadap kritik. Selama hal tersebut didasari analisis yang kuat.
Namun, dia membantah keras klaim yang menyebut ekonomi RI akan hancur dalam waktu dekat hanya karena faktor tunggal seperti fluktuasi harga minyak dunia.
“Jangan hanya bilang dua bulan lagi ekonomi Indonesia hancur atau resesi. Alasannya hanya karena harga minyak dunia diprediksi tembus USD200 per barel. Jika itu terjadi, seluruh dunia memang akan terkena dampaknya, bukan hanya kita,” tegas Purbaya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Info Publik, Jumat, 27 Maret 2026.
Ia juga menanggapi cibiran ekonom terkait langkahnya melakukan pengecekan langsung ke Pasar Tanah Abang.
Menurut Menkeu, observasi lapangan adalah langkah nyata untuk memvalidasi data statistik yang menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga.
Purbaya menambahkan bahwa seorang ekonom yang kompeten seharusnya mempertimbangkan berbagai variabel risiko secara komprehensif, termasuk rekam jejak pertumbuhan ekonomi nasional (data historis).
Kemudian, respons fiskal dan moneter terhadap tekanan global (kebijakan pemerintah). Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur yang masih ekspansif (indikator sektoral). Dan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) serta angka penjualan ritel serta otomotif yang tetap stabil (konsumsi domestik).
Menutup pernyataannya, Purbaya membandingkan kondisi Indonesia dengan negara maju seperti Amerika Serikat yang tengah berjuang menghadapi inflasi harga BBM.
Bagi Purbaya, stabilitas dalam negeri masih jauh lebih terkendali dibandingkan tekanan yang dirasakan oleh masyarakat di luar negeri.
Dia pun mengimbau agar para pengamat kembali mendalami data secara serius sebelum memberikan pernyataan ke ruang publik.
“Kalau memang tidak mengerti, lebih baik belajar lagi. Jangan asal bunyi apalagi menyebarkan ketakutan tanpa dasar data yang kuat,” pungkasnya.