Anggota Komisi III DPR RI Benny K Harman. (Foto: Mahendra/Karisma/DPR RI)

DPR Minta Kapolri Baru Hapus Kultur “No Viral No Justice”

2 October 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates—Kapolri, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto diminta melakukan reformasi kultural di tubuh Polri. Termasuk menghapus kebiasaan penanganan perkara yang baru bergerak setelah menjadi perhatian publik.

You may also like : benny k harmanSebut Polri-Kejaksaan Sedang Konflik, Legislator Usul Hak Angket dan Kasus Febrie Diserahkan ke KPK

Anggota Komisi III DPR RI Benny K Harman juga menegaskan, Polri harus memastikan aparat mengedepankan pelayanan dan tidak represif terhadap masyarakat.

You might be interested : wakil ketua komisi iii dpr ri dede indra permana soediro didampingi anggota komisi iii dpr berfoto 20260925200509Komisi III DPR RI Soroti Keamanan Pariwisata Bali

“Tentunya kami menyampaikan selamat kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto atas amanah barunya sebagai Kapolri. Tugas Jenderal Suyudi ke depan cukup berat, untuk mengembalikan marwah Polri sebagai pelayan masyarakat,” kata Benny melalui rilis tertulis di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website resmi DPR RI.

Politikus Demokrat itu mengatakan Kapolri baru perlu memastikan Polri kembali menjalankan fungsi sebagai lembaga penegak hukum dan alat negara sebagaimana amanat UUD 1945. Pasalnya, pembenahan tersebut harus diikuti perubahan kultur agar anggota Polri mengedepankan pelayanan kepada masyarakat.

“UUD 1945 Pasal 30 ayat 4 menyebut Polri sebagai alat negara, bukan alat Pemerintah, bukan alat penguasa. Dengan dinamika Polri selama beberapa tahun belakangan ini, tugas Jenderal Suyudi memastikan agar Polri kembali bekerja sesuai fungsi dan tugasnya,” jelas Benny.

Politisi berlatar belakang hukum itu juga menilai reformasi kultural diperlukan untuk mengubah pola pelayanan dari arogansi menjadi pendekatan yang lebih humanis.  Makanya, dirinya meminta Kapolri berani menghapus kultur “no viral no justice” serta menerapkan toleransi nol terhadap pungli, pemerasan, dan praktik backing.

“Harus ada reformasi kultural Polri, dari Arogansi ke pelayanan. Harapan kami, Kapolri baru harus berani menghapus kultur ‘no viral no justice’, serta tegakkan zero tolerance untuk pungli, pemerasan, dan backing,” ujar Benny.

Benny juga meminta penegakan hukum tidak hanya menyasar masyarakat kecil, tetapi mampu mengungkap aktor intelektual di balik berbagai tindak pidana. Ia menekankan perlunya pendekatan hukum yang tegas sekaligus humanis terhadap masyarakat.

“Untuk itu kami meminta komitmen Kapolri baru untuk berani mengungkap aktor intelektual, dan stop pendekatan represif untuk masyarakat kecil (petani, pengemudi ojol, aktivis),” katanya.

Suyudi Ario Seto menyatakan perubahan Polri harus dimulai dari pimpinan dan dibuktikan di lapangan. Ia menegaskan anggota Polri tidak boleh mencapai target dengan cara melanggar hukum maupun menggunakan kewenangan secara sewenang-wenang.

“Semangat yang ingin saya hidupkan sederhana. Tidak arogan, tidak berbohong, tidak menyalahgunakan kewenangan, dan tidak menyakiti masyarakat secara sewenang-wenang,” kata Suyudi.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

capture

Mark Twain

"Rahasia untuk maju adalah memulai."
Load More >