Chalong Riewrang (kiri) diperiksa polisi setelah diduga menembak hingga tewas Thongchai Yenprasert. (Foto: Reuters)

Eks Anggota Parlemen Thailand Tembak Mati Pejabat, Insiden Kedua dalam 3 Hari

10 August 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Seorang pejabat Thailand tewas setelah ditembak oleh mantan anggota parlemen, Chalong Riewrang, di kantor pemerintah daerah Nonthaburi, dalam insiden penembakan mematikan kedua di negara itu dalam kurun waktu tiga hari.
  • Penembakan terjadi karena perselisihan mengenai uang pinjaman antara Chalong dan korban, Thongchai Yenprasert, ketua Organisasi Administrasi Provinsi di Nonthaburi.
  • Chalong mengaku tidak berniat menembak Thongchai, namun ia merasa terancam ketika sopir korban mengeluarkan senjata dan mengarahkannya kepadanya.
  • Insiden ini terjadi setelah seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun menewaskan sembilan orang dalam insiden penembakan di sekolah pada hari Jumat, yang tercatat sebagai penembakan massal terburuk di Thailand sejak tahun 2022.
  • Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, telah memerintahkan penegakan aturan yang lebih tegas terhadap orang yang membawa senjata api di tempat umum dan menyatakan bahwa polisi akan mendirikan pos pemeriksaan sebagai bagian dari upaya penertiban.
  • Thailand memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara, dengan perkiraan 10,3 juta senjata api yang dimiliki warga sipil di Thailand, atau setara dengan sekitar 15 pucuk senjata per 100 penduduk.
  • Pemerintah Thailand berencana untuk memperketat aturan pengendalian senjata api, termasuk pengetatan pengawasan terhadap kepemilikan, pembawaan, dan penggunaan senjata api.
atau

UPdates—Seorang pejabat Thailand tewas setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di dalam kantor pemerintah daerah. Itu insiden penembakan mematikan kedua di negara itu dalam kurun waktu tiga hari.

Polisi menyatakan tersangka dalam serangan hari Senin di luar ibu kota Thailand, Bangkok, adalah mantan anggota parlemen daerah Chalong Riewrang, yang kini telah ditangkap.

Petugas mengatakan ia menembak Thongchai Yenprasert, ketua Organisasi Administrasi Provinsi di Nonthaburi, akibat perselisihan mengenai uang pinjaman.

Thongchai mengalami luka kritis setelah ditembak di bagian wajah dan leher, lalu meninggal dunia di rumah sakit, menurut keterangan pejabat setempat.

Sopir korban tertembak di bagian lengan dan kini dalam kondisi stabil.

Penembakan terjadi sekitar pukul 11.00 waktu setempat di kantor Organisasi Administrasi Provinsi Nonthaburi.

Letnan Jenderal Polisi Wattana Yijin mengatakan motifnya bersifat pribadi dan tersangka telah mengakui perbuatannya melakukan penembakan tersebut.

Chalong mengatakan kepada wartawan di kantor polisi setempat bahwa ia sedang berselisih dengan Thongchai mengenai uang yang pernah ia pinjamkan kepada korban.

Ia mengaku mengikuti Thongchai hingga ke mobilnya sebelum mengeluarkan senjata.

Chalong mengatakan tidak berniat menembak Thongchai, namun sang sopir juga mengeluarkan senjata dan mengarahkannya kepadanya, sehingga ia terdorong untuk melepaskan tembakan.

"Saya ingin meminta maaf kepada warga Nonthaburi," ujar Chalong sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Sky News, Senin, 10 Agustus 2026.

"Saya tidak memiliki niat [untuk membunuh]. Kami berteman dan saya pikir kami bisa membicarakannya baik-baik, tetapi dia tidak mau berbicara dengan saya," lajutnya.

Peristiwa ini terjadi setelah seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun menewaskan sembilan orang dalam insiden penembakan di sekolah pada hari Jumat—yang tercatat sebagai penembakan massal terburuk di Thailand sejak tahun 2022.

Menyusul serangan mematikan pekan lalu tersebut, muncul seruan untuk memperketat aturan pengendalian senjata api di negara itu—yang memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara.

Berdasarkan perkiraan tahun 2017 oleh Small Arms Survey, terdapat 10,3 juta senjata api yang dimiliki warga sipil di Thailand, atau setara dengan sekitar 15 pucuk senjata per 100 penduduk.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, telah memerintahkan penegakan aturan yang lebih tegas terhadap orang yang membawa senjata api di tempat umum dan menyatakan bahwa polisi akan mendirikan pos pemeriksaan sebagai bagian dari upaya penertiban.

Langkah tersebut mencakup pengetatan pengawasan terhadap kepemilikan, pembawaan, dan penggunaan senjata api.

"Tidak ada seorang pun yang berhak membawa senjata api, terutama di tempat umum," katanya.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >