
UPdates—Mantan Mayor Jenderal Israel, Itzhak Brik, memperingatkan bahwa Israel sedang menghadapi kehancuran yang tidak dapat dipulihkan di sektor militer, ekonomi, dan kelembagaannya.
You may also like :
Paris Air Show Nyatakan tidak Ada Tempat bagi Perusahaan Pertahanan Israel
Ia menyatakan bahwa Israel telah kehilangan legitimasi internasional serta sekutu-sekutunya, dan tidak akan mampu bertahan dalam isolasi yang berkepanjangan.
You might be interested :
Khamenei Perintahkan Militer Iran Siapkan Perang Besar Jika Diserang Lagi
Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh harian Israel, Maariv, Minggu, 1 November 2026, Brik menggambarkan situasi sulit yang dihadapi negaranya sebagai keruntuhan menyeluruh, bukan sekadar krisis politik.
Brik menyebut hasil pemilihan parlemen Selasa lalu sebagai surat kematian resmi bagi negara Israel.
Ia juga mengkritik para komentator televisi yang terlalu fokus pada perolehan kursi dan negosiasi koalisi, sementara mengabaikan masalah-masalah yang jauh lebih mendalam.
Menurutnya, liputan mereka ibarat sebuah orkestra yang tetap bermain di atas kapal Titanic pada saat-saat terakhir sebelum tenggelam.
Eks pemimpin di berbagai akademi militer dan menjabat sebagai Ombudsman Kementerian Pertahanan untuk pengaduan tentara itu mengatakan bahwa Israel kini telah menjadi negara yang dikucilkan secara internasional.
“Kita telah kehilangan legitimasi dan sekutu,” tulisnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Senin, 2 November 2026.
Ia memperingatkan bahwa negara tersebut tidak mungkin bisa bertahan dalam isolasi total untuk waktu yang lama.
Brik menggambarkan pasukan darat Israel sedang mengalami keruntuhan struktural dan kemerosotan moral, seraya berpendapat bahwa mereka tidak lagi memiliki kapasitas untuk mempertahankan negara dari ancaman yang datang secara bersamaan, baik dari dalam maupun luar perbatasan.
Ia memperingatkan bahwa tentara yang kelelahan tidak akan mampu menghentikan serangan skala besar atau melindungi warga sipil jika terjadi perang regional yang lebih luas.
Brik juga mengungkapkan bahwa peperangan yang berkepanjangan telah mendorong utang nasional mencapai 1,4 triliun shekel ($445 miliar).
Ia menduga bahwa sanksi ekonomi, pembatasan persenjataan, dan isolasi keuangan yang kian meningkat semakin memperberat tekanan tersebut.
Usulan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menggunakan mata uang kripto guna menangkal kemungkinan sanksi dari Eropa—disebutnya gagasan naif dan tidak masuk akal—serta memperingatkan bahwa kemerosotan lebih lanjut dapat mengancam tabungan warga Israel.
Mengenai perpecahan di dalam negeri, Brik menyatakan bahwa masyarakat Israel saat ini sedang mengalami apa yang ia sebut sebagai “perang saudara senyap,” yang jauh lebih serius daripada sekadar polarisasi biasa.
Menurutnya, para dokter, ilmuwan, pengusaha teknologi, dan tenaga profesional terampil lainnya telah pergi, sehingga menguras keahlian yang telah terkumpul selama berpuluh-puluh tahun.
Ia menuding para pemimpin politik telah mengikis supremasi hukum dan lembaga-lembaga publik, dengan lebih mengutamakan penunjukan berdasarkan pertimbangan politik serta loyalitas buta, alih-alih kompetensi dan integritas.
Pemilihan umum tanggal 27 Oktober menghasilkan 53 kursi bagi kubu Netanyahu di Knesset yang beranggotakan 120 orang. Sementara kubu oposisi yang dipimpin oleh tokoh partai Yashar, Gadi Eisenkot, memperoleh 48 kursi, dan partai-partai Arab meraih 19 kursi.
Tidak satu pun dari kedua kubu utama tersebut berhasil mengamankan 61 kursi yang diperlukan untuk mencapai mayoritas parlemen.