Tentara Israel berjaga selama serangan militer di desa Palestina Qabatiyah di utara Tepi Barat yang diduduki, 10 Januari 2025. (Foto: AFP)

Film Produksi Israel tentang Gaza: Tentara Merasa Seperti Bekerja di "Pabrik" Pembunuhan dan Main Video Game

11 September 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates–Sebuah film dokumenter baru yang mencengangkan tentang pembunuhan massal warga sipil di Gaza oleh Israel—yang melibatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI)—karya dua pembuat film Israel peraih Oscar, mendapat sambutan berupa tepuk tangan berdiri (standing ovation) selama 25 menit pada penayangan perdananya di Festival Film Venesia hari Kamis waktu setempat.

You may also like : rudal iran gettyIran Mulai Gunakan Rudal Elektro-optik Baru yang Mengerikan Melawan AS

Menurut pengamatan reporter AFP, penonton bertepuk tangan tanpa henti untuk Yuval Abraham dan Rachel Szor setelah pemutaran film yang diperkirakan mencetak rekor baru di Venesia, melampaui rekor tepuk tangan 23 menit untuk film lain tentang Gaza pada tahun lalu.

You might be interested : netanyahu aaNetanyahu Tersudut, Presiden UEA Ternyata Sudah Peringatkan Rencana Serangan 7 Oktober

Dalam film mereka yang berjudul "NAZA", Abraham dan Szor menggunakan rekaman percakapan dengan 24 orang sumber informasi (whistleblower) dari kalangan militer atau intelijen Israel yang bersedia bicara dengan syarat identitas mereka dilindungi.

"Kami membiarkan para tentara dan perwira berbicara mengenai apa yang telah mereka lakukan," ujar Abraham kepada AFP sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari France24, Jumat, 11 September 2026.

"Tujuannya sangat sederhana: kami ingin mendengar sedetail mungkin seperti apa sistem pembunuhan di Gaza itu dan bagaimana sistem tersebut beroperasi," lanjutnya.

Film berdurasi 80 menit ini membuat banyak penonton terpana; para narasumber dalam film tersebut menggambarkan bagaimana mereka merasa seolah-olah bekerja di sebuah "pabrik" pembunuhan atau di dalam video game yang mematikan.

Nama "NAZA" diambil dari istilah eufemisme yang digunakan oleh intelijen Israel untuk merujuk pada perkiraan jumlah warga sipil yang akan tewas dalam sebuah serangan udara.

Majalah film Screen menyebut film ini sebagai karya yang mendesak dan mengguncang batin.

Sementara The Hollywood Reporter menyatakan bahwa film ini memicu kemarahan serta rasa tidak terima. “Yang pasti, timbul rasa jijik yang mendalam terhadap rezim Israel saat ini," demikian penilaian The Hollywood Reporter.

Kesaksian langsung

Para pria dan wanita yang ditampilkan dalam "NAZA"—dengan suara dan wajah yang disamarkan secara digital—memaparkan secara rinci tentang sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Lavender yang digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang yang akan dibunuh.

"Hal itu dilakukan dalam skala besar, layaknya sebuah pabrik," ujar salah satu dari mereka; semuanya direkam pada malam hari di sebuah teras atap dengan latar belakang kota Tel Aviv yang sunyi senyap.

Lavender memanfaatkan data dari pengawasan massal di Gaza—di mana seluruh jaringan telekomunikasi dipantau oleh Israel—untuk mengidentifikasi target berdasarkan panggilan telepon, pergerakan, dan interaksi mereka.

"Parameter sistemnya begitu rumit hingga sulit dipahami," ungkap salah satu narasumber yang mengaku pernah bekerja mengembangkan sistem tersebut kepada para pembuat film.

Narasumber lainnya memaparkan penghancuran rumah-rumah warga sipil secara sistematis, pengabaian terhadap hukum perang dan hukum kemanusiaan, serta adanya suasana umum yang penuh kebencian terhadap warga Palestina.

"Rasanya seperti bermain video game karena semuanya dilakukan dari jarak jauh," ujar salah satu narasumber yang terlibat dalam identifikasi target pada suatu kesempatan.

Narasumber lain menggambarkannya sebagai sesuatu yang "sangat mengasyikkan".

Film-film tentang Gaza

Sebagai hasil dari penyelidikan yang berlangsung hampir tiga tahun, "NAZA" menjadi satu-satunya film dokumenter yang berkompetisi di Festival Film Venesia tahun ini, yang akan berakhir pada hari Sabtu.

Sambutan meriah dapat dengan mudah dimanipulasi dan dianggap sebagai tolok ukur yang tidak sempurna untuk menilai sebuah film, namun hal itu memberikan gambaran mengenai dampak film tersebut terhadap pengunjung festival dan para kritikus.

Bersama rekan-rekan mereka dari Palestina, Basel Adra dan Hamdan Ballal, Abraham dan Szor memenangkan Oscar pada tahun 2025 berkat film mereka, "No Other Land", yang mengangkat kisah tentang kekerasan oleh pemukim Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Film terbaru mereka diproduseri oleh Jim Wilson asal Inggris dengan bantuan Jonathan Glazer—tim di balik film pemenang Oscar berlatar Auschwitz, The Zone of Interest—serta surat kabar Inggris, The Guardian.

Perang di Gaza masih mendapat dukungan luas dari publik Israel, namun Abraham dan Szor berharap hal ini dapat mendorong negara-negara Barat untuk mencabut dukungan mereka terhadap Israel dan memberikan tekanan melalui sanksi.

"Kami yang berada di dalam Israel dan Palestina yang berjuang demi perubahan, membutuhkan hal itu," ujar Abraham kepada AFP.

"Anda melemahkan orang-orang di dalam yang mendukung hak asasi manusia dan solusi politik dengan cara menolak untuk bertindak," tegasnya.

Tahun lalu, The Voice of Hind Rajab—sebuah film dokudrama mengenai tewasnya seorang anak perempuan Palestina berusia lima tahun akibat tindakan pasukan Israel—meraih juara kedua di festival tersebut setelah mendapatkan sambutan meriah berupa tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) selama 23 menit saat penayangan perdananya.

Semakin banyak tokoh hiburan terkemuka yang secara terbuka mengkritik pemerintah Israel, seiring dengan pergeseran opini publik di negara-negara Barat yang menentang kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Wartawan asing dilarang meliput langsung dari Gaza sejak awal konflik, kecuali dalam kondisi yang dikontrol ketat oleh militer Israel.

Pemboman Israel terhadap Gaza telah menewaskan sekitar 73.500 warga Palestina dan melukai 174.500 orang sejak Oktober 2023, menurut kementerian kesehatan Gaza yang dikelola Hamas—data yang dianggap dapat dipercaya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Israel membantah sengaja menargetkan warga sipil di Gaza, serta menuduh Hamas bersembunyi di tengah penduduk wilayah kantong yang padat dan terkepung tersebut—tempat sekitar dua juta orang tinggal sebelum perang meletus.

Serangan gencar Israel terhadap wilayah tersebut terjadi setelah serangan mendadak militan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.219 orang, menurut penghitungan AFP berdasarkan data resmi.

Serangan tiba-tiba Hamas dan kelompok perlawanan lainnya itu sebagai bentuk perlawanan rakyat Palestina atas penjajahan dan penindasan yang dilakukan Israel selama puluhan tahun.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >