Ilustrasi Gerhana Bulan Total atau Blood Moon. (foto:Freepik/wirestock)

Gerhana Bulan Total Hiasi Langit Indonesia 3 Maret 2026, Aman Diamati dengan Mata Telanjang

1 March 2026
Font +
Font -

UPdates - Pada Selasa, 3 Maret 2026, akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) atau yang sering dijuluki sebagai Blood Moon.

Fenomena ini menjadi sangat istimewa karena puncaknya bertepatan dengan waktu berbuka puasa di wilayah Indonesia bagian barat.

Dilansir Keidenesia.id dari Infopublik.id, Minggu, 1 Maret 2026, Plt. Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, A. Fachri Radjab menjelaskan, Gerhana Bulan Total terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga cahaya matahari terhalangi oleh bumi.

You might be interested : pexels george desipris 1276314Jumat 14 Maret Terjadi Gerhana Bulan Total, Bisa Dilihat dari Wilayah Ini

Namun, bulan tidak sepenuhnya gelap. Fenomena yang disebut hamburan Rayleigh menyebabkan pembiasan cahaya atmosfer bumi yang membuat bulan tampak berwarna merah pekat.

"Fenomena dengan periode yang persis sama seperti ini baru akan terulang kembali dalam 18 tahun ke depan," jelasnya dalam Podcast Bukan Bulan Biasa BMKG, di Jakarta, Sabtu 28 Februari 2026.

Seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dapat menyaksikan fenomena ini.

Berikut adalah rincian fase gerhana (dalam WIB):

  1. Awal Fase Penumbra: Mulai pukul 15.00 WIB.
  2. Gerhana Sebagian: Mulai pukul 16.40 WIB.
  3. Puncak Gerhana Bulan Total: Terjadi pada pukul 18.03 WIB.
  4. Akhir Fenomena: Sekitar pukul 21.00 WIB.

Wilayah Indonesia bagian timur (WIT) mendapatkan keuntungan lebih karena bulan sudah terbit saat seluruh fase gerhana dimulai, sehingga masyarakat di sana dapat menyaksikan seluruh rangkaian proses dari awal hingga akhir dengan lebih jelas.

Aman Diamati dengan Mata Telanjang

Berbeda dengan gerhana matahari, Gerhana Bulan Total sangat aman diamati dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat bantu atau kacamata khusus.

BMKG sendiri akan melakukan pengamatan di 36 lokasi di seluruh Indonesia menggunakan teropong canggih.

Masyarakat yang tidak bisa keluar rumah tetap dapat menyaksikan fenomena ini melalui siaran langsung (live streaming) di kanal resmi Info BMKG.

Fachri menegaskan bahwa Gerhana Bulan Total adalah fenomena alamiah murni.

Secara ilmiah, dampak yang nyata hanya terjadi pada kondisi pasang surut air laut, di mana permukaan air laut akan menjadi lebih tinggi karena gaya gravitasi bulan.

Masyarakat diharapkan tidak mempercayai mitos-mitos yang tidak berdasar, seperti: Bulan dimakan raksasa, Larangan bagi ibu hamil untuk keluar rumah, dan mandi saat gerhana untuk menambah aura kecantikan.

"Mengingat fenomena ini terjadi di bulan Ramadan dan merupakan tanda kebesaran Sang Pencipta, umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan Salat Gerhana setelah melihat fenomena tersebut," ungkap Fachri.

Jangan lewatkan momen langka ini. Pastikan Anda memantau cuaca terkini melalui aplikasi Info BMKG agar pengamatan tidak terhalang oleh awan mendung.

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

mustofa bisri

Achmad Mustofa Bisri

"Kerendahanmu tidak akan terangkat dengan merendahkan orang lain."
Load More >