
UPdates—Pernyataan perang habis-habisan yang disampaikan Iran ditanggapi Presiden AS, Donald Trump dengan ancaman.
You may also like :
Kepala NASA yang Baru Ingin Tentara Amerika Tugas di Luar Angkasa
“Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang dengan sangat keras hari ini, lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” tulis presiden AS di media sosial.
You might be interested :
Disergap Brigade Al-Qassam, 19 Tentara Israel Diangkut Pulang dengan Helikopter
“Namun, mereka sebaiknya tidak melakukan itu, karena jika mereka melakukannya, kita akan menyerang mereka dengan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya!” ancamnya.
Namun, ancaman Trump tak lagi mempan. Iran terus membombardir fasilitas dan aset Amerika di Timur Tengah serta wilayah Israel.
Di wilayah Israel, Iran melancarkan serangan di sejumlah kota. Di Beit Shemesh, rudal Iran menghantam tempat perlindungan dan menyebabkan 9 orang tewas dan 27 terluka, termasuk dua dalam kondisi kritis. Angka itu diungkap organisasi layanan medis darurat, ambulans, dan bank darah nasional Israel, Magen David Adom (MDA).
Menurut surat kabar The Times of Israel, rudal balistik Iran menghantam daerah pemukiman di kota itu yang menyebabkan kerusakan parah pada tempat perlindungan bom.
Sementara itu, di Uni Emirat Arab, serangan pembalasan Iran di fasilitas dan aset AS menyebabkan 3 orang tewas dan 58 luka-luka.
UEA mendeteksi 165 rudal balistik, menghancurkan 152, dan mencegat dua rudal jelajah, kata Kementerian Pertahanan UEA.
Pernyataan itu menyebut sebanyak 541 drone Iran terdeteksi, 506 di antaranya dicegat dan dihancurkan.
Iran juga telah meluncurkan 97 rudal balistik dan 283 drone ke Kuwait, menurut kementerian pertahanan negara itu pada hari Minggu. Mereka mengatakan beberapa di antaranya dihancurkan.
Satu orang tewas dan lebih dari 30 orang terluka dalam serangan Iran di Kuwait, kata kementerian kesehatan negara itu.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan Iran akan terus menyerang dengan keras.
“Kami akan terus mengikuti jejak pemimpin tertinggi kami. Angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan terus menyerang dengan keras, akan terus menghancurkan pangkalan militer musuh kami. Kemartiran pemimpin revolusi adalah puncak dari pengorbanan bertahun-tahun,” tegasnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Al Jazeera.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan Iran tidak memiliki batasan atau kendala dalam membela diri.
Abbas Araghchi juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pembunuhan pemimpin tertinggi Ali Khamenei adalah tindakan yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya serta pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Menurutnya, pembunuhan pemimpin tertinggi mereka akan membuat konfrontasi menjadi lebih kompleks dan berbahaya.
Abbas Araghchi, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera juga menguraikan proses pemilihan pemimpin tertinggi baru setelah pembunuhan Khamenei.
“Ada prosedur yang ditetapkan dalam konstitusi kami. Kami sekarang telah memulai prosedur itu. Hari ini dewan transisi telah dibentuk dan [terdiri dari] presiden, kepala kehakiman, dan salah satu ahli hukum Dewan Penjaga Konstitusi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kelompok tiga orang ini akan bertindak sebagai penanggung jawab kepemimpinan sebelum pemimpin baru terpilih.
“Kemudian proses pemilihan pemimpin baru oleh Majelis Ahli, saya kira akan memakan waktu singkat. Mungkin dalam satu atau dua hari mereka akan memilih pemimpin baru untuk negara ini. Jadi semuanya berjalan sesuai rencana dan sesuai dengan sistem hukum kita dan sesuai dengan konstitusi,” jelasnya.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebagaimana laporan kantor berita TASS menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Pezeshkian atas pembunuhan pemimpin tertinggi mereka.
Menurut TASS, Putin mengatakan bahwa pembunuhan Khamenei adalah "pembunuhan sinis” yang melanggar semua standar moralitas manusia dan hukum internasional.
Presiden Pezeshkian sementara itu mengatakan serangan AS dan Israel serta pembunuhan Khamenei adalah deklarasi perang terbuka terhadap umat Muslim, khususnya Syiah.
"Peristiwa tragis ini adalah cobaan terbesar yang dihadapi dunia Islam saat ini," kata Pezeshkian dalam pesan tertulis.